Masa remaja adalah fase transisi yang sangat penting dalam kehidupan. Menurut World Health Organization (WHO), remaja didefinisikan dalam rentang usia 10 hingga 19 tahun.
Di masa ini, terjadi banyak perubahan fisik, emosional, hingga sosial yang membuat remaja menjadi lebih rentan terhadap berbagai masalah kesehatan mental. Data dari WHO menunjukkan, satu dari tujuh (14%) anak usia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Sayangnya, sebagian besar dari mereka tidak terdiagnosis dan tidak mendapatkan penanganan yang memadai.
Kesehatan mental adalah aspek yang harus dijaga dengan baik, sama halnya seperti kesehatan fisik. Menurut Supini et al. (2024), gangguan kesehatan mental dapat menyebabkan perasaan tidak nyaman, mudah stres, lelah, dan cepat merasa bosan.
Sebaliknya, menjaga kesehatan mental dapat meningkatkan produktivitas serta kualitas kesehatan fisik. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mental sangat penting untuk membantu individu, khususnya remaja, menjalani hidup dengan lebih baik.
Kesehatan Mental Remaja
Kesehatan mental memiliki peran yang sangat penting, terutama pada remaja. WHO mendefinisikan kesehatan mental sebagai kondisi di mana individu dapat mencapai kesejahteraan psikologis, mampu mengatasi tekanan hidup, menyadari kemampuan diri, berkontribusi kepada masyarakat, dan dapat belajar serta bekerja dengan baik. Rozali et al. (2021) menambahkan bahwa kesehatan mental adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta menerima kondisi sosial yang ada. Dengan kesehatan mental yang baik, remaja dapat menyeimbangkan emosinya dan menjalani kehidupan dengan lebih produktif.
Namun, banyak remaja yang masih belum mampu menjaga kesehatan mental mereka. Menurut Yasipin et al. (2020), remaja rentan mengalami gangguan kesehatan mental, salah satu faktornya adalah pengalaman “kehilangan” yang memicu rasa kecewa dan ketidakterimaan.
Filosofi “Nrimo Ing Pandum”
Untuk mengatasi rasa kecewa dan ketidakterimaan, penting bagi remaja untuk mengembangkan sikap “nrimo” dalam diri mereka. Yemima & Basuki (2024) menjelaskan bahwa dalam filosofi Jawa, nrimo ing pandum terdiri dari tiga prinsip utama, yaitu rasa syukur, sabar, dan penerimaan (legowo). Filosofi ini berhubungan erat dengan aspek spiritual dan membantu individu menerima keadaan yang tidak sesuai dengan harapan.
Dalam bahasa Jawa, “nrimo” berarti menerima, sedangkan “pandum” berarti pemberian. Sehingga, nrimo ing pandum dapat diartikan sebagai menerima segala bentuk pemberian. Konsep ini membantu individu mengurangi rasa kecewa ketika harapan mereka tidak sesuai dengan kenyataan (Rakhmawati, 2022). Sikap ini juga menjadi sumber ketenangan batin, pengendalian diri, serta rasa syukur.
Orang Jawa diajarkan untuk selalu nrimo dan legawa (menerima dengan ikhlas), murah hati, serta tidak terlalu memikirkan hal-hal yang tidak mereka miliki. Menurut Rakhmawati (2022), sikap bersyukur dapat membantu individu mencapai kebahagiaan dan ketenangan batin. Dengan memiliki sikap nrimo ing pandum, individu akan lebih mudah meraih kebahagiaan tanpa dibayangi rasa kecewa.
Tiga Prinsip “Nrimo Ing Pandum”
Yemima & Basuki (2024) menjelaskan bahwa ada tiga prinsip utama dalam filosofi nrimo ing pandum:
- Syukur
Lubis (2019), rasa syukur dapat meningkatkan emosi positif, pemikiran yang lebih jernih, serta memperkuat ingatan akan hal-hal baik. - Sabar
Sabar adalah kemampuan individu dalam mengendalikan diri, menerima keadaan, dan tidak mudah putus asa. Dewita & Alena (2019) menyatakan bahwa kesabaran membantu seseorang untuk tetap tenang, mudah memaafkan, dan ikhlas menghadapi tantangan hidup. - Penerimaan (Legawa)
Legawa adalah sikap di mana individu dapat menerima segala hal dalam hidup apa adanya. Anissa & Koentjoro (2023) menyebutkan bahwa penerimaan ini akan membantu seseorang lebih tenang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Implementasi Sikap “Nrimo Ing Pandum”
Untuk mengaplikasikan sikap nrimo ing pandum, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan:
Bersyukur atas segala hal yang diberikan
Mulailah bersyukur dari hal-hal kecil, seperti kesehatan dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari. Bersyukur bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja.
Sabar dalam menjalani kehidupan
Kesabaran adalah kunci untuk menghadapi tantangan hidup yang berat. Dengan sabar, seseorang akan lebih tenang dan tidak tergesa-gesa dalam mencapai tujuan.
Menerima keadaan saat ini dengan ikhlas
Penerimaan mungkin terasa sulit pada awalnya, namun ketika seseorang berhasil melakukannya, hidup akan terasa lebih ringan dan bebas dari tekanan.
Kesimpulan
Fase remaja adalah masa yang penuh perubahan, baik fisik maupun emosional, sehingga rentan terhadap masalah kesehatan mental. Menurut WHO, satu dari tujuh anak usia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Karena itu, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Salah satu cara yang efektif adalah dengan mengembangkan sikap nrimo ing pandum yang dapat membantu remaja menerima kehidupan dengan baik dan mencapai keseimbangan emosi.
Tinggalkan Balasan Batalkan balasan