JAKARTA, GEMADIKA.com – Ratusan massa dari berbagai elemen, yakni Aliansi Pemuda Lintas Agama, Ketua Masyarakat Anti Pelecehan, dan Aliansi Pemuda Islam Nusantara, menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di depan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) RI, Jakarta, Senin (24/3/2025). Massa dengan tegas menuntut agar Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar segera dievaluasi dan dicopot dari jabatannya.
Aksi ini berlangsung dengan penuh semangat meski di bawah terik matahari. Para demonstran mengungkap berbagai dugaan serius yang mengguncang kredibilitas sang menteri, termasuk dugaan pelecehan verbal, perselingkuhan, serta praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang disebut-sebut telah mengakar dalam lingkungan Kemenag RI.
Salah satu isu utama yang menjadi sorotan adalah program ‘Kurikulum Cinta’ yang digagas oleh Kemenag. Program ini diklaim bertujuan menyebarkan nilai kasih sayang dan toleransi, namun para demonstran menudingnya sebagai kedok untuk menutupi perilaku tidak pantas sang menteri.
Dugaan Pelecehan dan Perselingkuhan
Dalam aksi demonstrasi ini, massa membentangkan berbagai spanduk dengan tulisan keras seperti “Copot Menteri Munafik!”, “Agama Bukan Kedok Nafsu!”, dan “Jangan Nistakan Ayat Tuhan Demi Jabatan!” Sebagai bentuk perlawanan terhadap dugaan pelecehan terhadap nilai-nilai agama.
Rahmat Pratama, koordinator aksi, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar tuduhan tanpa dasar, melainkan upaya penyelamatan moral bangsa.
“Kami menuntut Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi Menang Nasaruddin Umar dan kalau perlu dicopot dari jabatannya. Hal ini karena terduga (red-Nasaruddin) sudah melakukan perbuatan pelecehan verbal, dugaan perselingkuhan dan dugaan praktek KKN, sebagaimana terungkap dari testimoni dan temuan kami,” kata Rahmat Pratama Korlap Aksi Demonstrasi, melalui rilis media, Rabu (26/3/2025) di Jakarta.
Salah satu dugaan yang mencuat adalah kasus seorang perempuan berinisial S, yang mengaku mengalami pelecehan verbal dan fisik dari Nasaruddin Umar. S mengungkap bahwa dirinya diajak menikah-kawin, padahal ia sudah bersuami.
Selain itu, ada pula dugaan perselingkuhan dengan seorang pegawai BUMN berinisial N. N disebut-sebut memiliki hubungan spesial dengan Nasaruddin Umar saat ia masih menjabat sebagai Komisaris di salah satu BUMN.
“Kami siap menghadirkan para korban untuk bersaksi secara langsung, baik bersama-sama maupun secara individu,” kata Rahmat menegaskan.
Dugaan Nepotisme dan Korupsi di Lingkungan Kemenag
Selain skandal dugaan pelecehan dan perselingkuhan, aksi massa juga menyoroti dugaan praktik nepotisme yang dilakukan oleh Nasaruddin Umar dalam menunjuk pejabat di lingkungan Kemenag tanpa melalui proses seleksi yang sah. Tidak hanya itu, pengelolaan anggaran Masjid Istiqlal yang disebut tidak transparan juga turut menjadi perhatian.
“Menag Nasaruddin Umar diduga telah melakukan rangkap jabatan serta mengelola anggaran Masjid Istiqlal dengan cara yang tidak transparan. Ini adalah bentuk penyalahgunaan wewenang yang tidak bisa dibiarkan,” tambah Rahmat.
Dukungan Publik Menggema di Media Sosial
Demonstrasi ini juga mendapatkan dukungan luas dari masyarakat. Di media sosial, berbagai tagar seperti #CopotMenagNasaruddin dan #BongkarPelecehanKemenag mulai menggema sebagai bentuk solidaritas terhadap para korban yang berani bersuara.
Rahmat menegaskan bahwa aksi ini tidak akan berhenti hanya di Jakarta. Jika Presiden Prabowo Subianto tidak segera mengambil langkah tegas, maka gelombang demonstrasi akan terus meluas ke berbagai kota di Indonesia.
“Kami tidak akan tinggal diam. Ini bukan sekadar soal politik, tetapi tentang moral, keadilan, dan keselamatan umat dari figur yang diduga telah mengkhianati nilai-nilai suci agama,” pungkasnya.
Aksi ini menegaskan bahwa masyarakat tidak akan tinggal diam menghadapi dugaan penyalahgunaan jabatan oleh pejabat publik. Kini, semua mata tertuju pada Presiden Prabowo Subianto untuk mengambil keputusan tegas dalam menanggapi tuntutan rakyat. (Selamet)
Tinggalkan Balasan Batalkan balasan