GEMADIKA.com – Perang dagang antara Amerika Serikat dan China kembali memanas setelah mantan Presiden AS, Donald Trump, resmi menaikkan tarif impor hingga 34% untuk produk asal China dan 32% untuk Indonesia. Kebijakan ini berpotensi memukul ekspor Indonesia serta mengguncang stabilitas ekonomi global.

Kenaikan tarif ini menjadi bagian dari strategi perdagangan AS untuk melindungi industri dalam negeri, tetapi dampaknya bisa berakibat luas terhadap rantai pasokan global. Indonesia, yang memiliki hubungan perdagangan erat dengan AS, turut merasakan dampaknya, terutama pada sektor manufaktur, tekstil, dan produk elektronik yang bergantung pada pasar ekspor.

Para ekonom memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Kenaikan tarif ini akan mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar AS, yang pada akhirnya bisa menekan sektor ekspor kita,” ujar seorang pakar ekonomi.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia berencana mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi dampak dari kebijakan ini, termasuk menjajaki pasar alternatif serta memperkuat perdagangan dengan negara-negara lain guna mengurangi ketergantungan terhadap AS.

Keputusan AS ini diprediksi akan memperpanjang ketegangan perdagangan global dan dapat mempengaruhi hubungan bilateral antarnegara. Pengamat ekonomi global menilai bahwa ketidakpastian ini akan berdampak pada stabilitas keuangan internasional, terutama bagi negara-negara berkembang yang sangat bergantung pada ekspor.
(redaksi)