SAMARINDA, GEMADIKA.com – Jalanan Samarinda dihebohkan dengan pemandangan tak biasa, sebuah mobil pikap putih yang mengangkut tandon air mengibarkan bendera bergambar tengkorak bertopi jerami – simbol ikonik dari anime One Piece. Aksi ini bukan sekadar mengikuti tren, melainkan bentuk protes kreatif yang mencuri perhatian warga hingga viral di media sosial.

Fenomena pengibaran bendera bajak laut dari anime One Piece kini menjadi trending topic di berbagai daerah Indonesia, termasuk Samarinda, Kalimantan Timur. Yang menarik, bendera bergambar tengkorak bertopi jerami ini tidak lagi sekadar aksesori penggemar anime, tetapi telah berubah menjadi simbol protes diam-diam terhadap berbagai persoalan bangsa.

Yadi Tandon (32), sosok di balik aksi viral ini, adalah seorang pedagang air tandon yang sehari-hari berkeliling Samarinda untuk mencari nafkah. Pria sederhana ini sengaja memasang bendera Jolly Roger – lambang kru bajak laut Topi Jerami dalam serial One Piece – di kendaraan operasionalnya sebagai bentuk ungkapan kekecewaan.

“Ini murni karena kecewa. Ada koruptor bebas malah disambut seperti pahlawan pulang perang. Pajak makin memberatkan, aturan makin aneh. Kami rakyat kecil cuma bisa protes begini,” ujar Yadi kepada Kompas.com, Rabu (6/8/2025).

Keputusan Yadi untuk menggunakan bendera One Piece bukanlah tanpa makna. Menurutnya, karakter-karakter dalam serial anime populer tersebut memiliki semangat perjuangan yang relevan dengan kondisi masyarakat kecil saat ini.

Bagi Yadi, pilihan bendera One Piece memiliki filosofi mendalam. Serial anime karya Eiichiro Oda ini dikenal dengan tema-tema perlawanan terhadap ketidakadilan, persahabatan, dan perjuangan untuk meraih mimpi – nilai-nilai yang ia rasa mencerminkan kondisi rakyat kecil Indonesia.

“Saya pasang bukan karena ikut tren. Tapi karena pesan moralnya kuat. Tentang keadilan, tentang harapan,” tambahnya.

Fenomena ini semakin mendapat sorotan karena timing-nya yang bertepatan menjelang peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia. Di media sosial, banyak netizen yang menyebut aksi serupa sebagai “protes sunyi” atau bentuk resistensi pasif masyarakat terhadap berbagai kebijakan yang dianggap memberatkan.

Menyikapi fenomena yang semakin meluas ini, pihak kepolisian memberikan respons yang cukup bijak. Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, tidak serta-merta melarang atau memberikan sanksi, namun memberikan himbauan edukatif kepada masyarakat.

“Ini menjelang HUT ke-80 Republik Indonesia. Momen yang tepat untuk menumbuhkan kembali semangat cinta tanah air,” kata Hendri.

“Bendera Merah Putih adalah simbol resmi negara, dan itu yang seharusnya dikibarkan,” sambungnya, sembari mengajak masyarakat untuk tidak melupakan makna nasionalisme di momen bersejarah ini.

Aksi Yadi dan pedagang-pedagang lainnya telah memicu diskusi menarik di ruang publik. Sebagian masyarakat menilai ini sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang kreatif dan tidak merugikan siapa pun. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa pengibaran bendera selain Merah Putih, terutama menjelang HUT RI, kurang tepat secara simbolis.

Fenomena ini juga merefleksikan bagaimana budaya pop, dalam hal ini anime, telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia dan bahkan digunakan sebagai media untuk menyampaikan aspirasi politik dan sosial.

Terlepas dari pro dan kontra, fenomena bendera One Piece di Samarinda ini memberikan pelajaran berharga tentang kreativitas rakyat kecil dalam menyuarakan aspirasinya. Yadi dan rekan-rekan pedagang lainnya telah menunjukkan bahwa protes tidak selalu harus keras atau destruktif – terkadang simbol sederhana pun bisa menyampaikan pesan yang kuat.

Namun, penting juga untuk menemukan keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan rasa hormat terhadap simbol-simbol negara, terutama di momen-momen bersejarah seperti peringatan kemerdekaan. (Mond)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami