JAKARTA, GEMADIKA.com – Pemerintah bersama Badan Anggaran (Banggar) DPR RI resmi menetapkan indikator kesejahteraan baru dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Gross National Income (GNI) per kapita yang ditargetkan mencapai US$5.520 atau Rp91,99 juta per tahun. Jika dihitung per bulan, rata-rata pendapatan penduduk Indonesia ditetapkan sekitar Rp7,66 juta.

Ketua Banggar DPR RI, Said Abdullah, menegaskan bahwa indikator GNI per kapita akan menjadi tolok ukur penting untuk menilai keberhasilan pembangunan ekonomi sekaligus kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Selain GNI, APBN 2026 juga memperkenalkan sejumlah indikator baru, di antaranya:

  • Indeks Kesejahteraan Petani dan Nelayan, penyempurnaan dari NTP (Nilai Tukar Petani) dan NTN (Nilai Tukar Nelayan).
  • Penciptaan lapangan kerja formal untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja.
  • Tingkat pengangguran terbuka ditargetkan berada di kisaran 4,44%–4,96%.
  • Angka kemiskinan diproyeksikan turun menjadi 6,5%–7,5%.
  • Pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 37,14%.
  • Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) ditargetkan mencapai 76,67.

APBN 2026 juga menitikberatkan pada pertumbuhan ekonomi inklusif dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah akan memfokuskan berbagai program prioritas, mulai dari ketahanan pangan, energi, pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, hingga investasi.

Meski pemerintah optimistis, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa pencapaian target memerlukan dukungan kebijakan yang konsisten, terutama dalam menciptakan lapangan kerja merata agar manfaat pembangunan benar-benar dirasakan seluruh rakyat.

Dengan adanya indikator GNI per kapita sebagai ukuran baru, arah pembangunan ekonomi Indonesia diharapkan semakin terukur dan dapat memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami