GROBOGAN, GEMADIKA.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menuai kejadian yang mengkhawatirkan. Sebanyak 803 orang, mayoritas siswa sekolah, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu MBG yang dibagikan di Kecamatan Gubug.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Grobogan mencatat angka tersebut sebagai akumulasi seluruh laporan sejak kasus pertama kali terdeteksi pada Jumat (9/1/2026). Kejadian ini menjadi sorotan serius karena melibatkan ratusan siswa dan memunculkan pertanyaan besar tentang sistem pengawasan keamanan pangan dalam program bantuan pemerintah.

Kepala Dinkes Grobogan, Djatmiko, menyampaikan bahwa dari ratusan korban yang terdampak, sebagian besar telah pulih setelah mendapatkan penanganan medis yang cepat dan tepat.

“Total terdampak 803 orang,” kata Djatmiko saat dihubungi, Selasa (14/1/2026), seperti dilansir Times Indonesia.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 688 orang telah dinyatakan sembuh. Sementara 115 orang sempat menjalani perawatan inap di berbagai fasilitas kesehatan di wilayah Grobogan. Hingga Selasa, 61 pasien sudah diperbolehkan pulang, dan tersisa 54 orang yang masih dalam pemantauan tim medis.

Baca juga :  Kirab Budaya Sedekah Bumi Desa Sumber Jatipohon Meriah, Warga Uri-Uri Tradisi Leluhur

“Yang masih dirawat kondisinya terus membaik,” ujar Djatmiko menenangkan.

Kronologi Kasus

Kasus dugaan keracunan massal ini pertama kali terungkap ketika puluhan siswa mulai mengeluhkan gejala mual, muntah, dan diare pada Jumat malam (9/1/2026), tak lama setelah mereka menerima dan mengonsumsi menu MBG di sekolah masing-masing.

Kondisi kesehatan para siswa terus memburuk hingga Sabtu (10/1/2026). Banyak siswa yang tidak bisa masuk sekolah karena mengalami keluhan kesehatan serupa. Pola kejadian yang masif ini segera menarik perhatian pihak sekolah dan orang tua.

Melihat pola kejadian yang tidak wajar, Dinkes Grobogan langsung turun tangan melakukan pemeriksaan lapangan dan pendataan korban secara menyeluruh. Selain fokus pada penanganan medis, dinas juga mulai menelusuri akar permasalahan, termasuk proses pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan MBG yang diduga menjadi sumber keracunan.

Evaluasi Menyeluruh Diperlukan

Program Makan Bergizi Gratis yang sejatinya bertujuan meningkatkan asupan gizi dan kesehatan siswa, kini justru memunculkan kekhawatiran baru. Kejadian di Grobogan menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah untuk lebih ketat dalam mengawasi implementasi program sosial yang menyangkut keselamatan publik.

Baca juga :  Meriah! Kirab Budaya Apitan Dusun Sinawah Grobogan Hadirkan Ogoh-ogoh hingga 10 Sound Horeg

Dinkes Grobogan menilai perlunya evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan pangan, khususnya pada program yang menjangkau ribuan penerima dalam waktu singkat. Pengawasan yang lemah berpotensi mengubah program bantuan menjadi bencana kesehatan masyarakat.

Djatmiko menegaskan, pihaknya akan berkoordinasi erat dengan instansi terkait, termasuk Dinas Pendidikan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta penyedia katering untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.

“Pengawasan ketat terhadap penyedia makanan dan prosedur distribusi menjadi kunci agar manfaat program MBG tidak justru berujung pada risiko kesehatan bagi masyarakat,” tegasnya.

Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap program pemerintah, termasuk yang bersifat bantuan sosial.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami