BANGKALAN, GEMADIKA.com – Program Makan Bergizi (MBG) di Kabupaten Bangkalan terus diperluas. Kali ini, layanan pemenuhan gizi menjangkau kalangan pondok pesantren dan sekolah luar biasa melalui peresmian Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pamorah, yang berlokasi di Yayasan Nurul Amanah Al-Makky, Jalan Raya Tragah No. 9, Desa Pamorah, Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan.
Dapur SPPG Pamorah ini siap melayani 1.723 siswa dari 16 lembaga pendidikan setiap hari, mulai dari PAUD, SD, SMP/MTs, SMA/SMK, hingga Sekolah Luar Biasa (SLB) Samudra Terra Athena.

Peresmian dapur SPPG berlangsung khidmat dan dihadiri Camat Tragah, jajaran Forkopimcam, para kepala sekolah penerima manfaat, tokoh agama, serta tokoh masyarakat setempat.
PIC Yayasan Nurul Amanah, Abdul Somad, menjelaskan bahwa sebenarnya pendistribusian Program Makan Bergizi sudah berjalan lebih dulu sebelum seremoni peresmian dilakukan.
“Kemarin penerima manfaat sudah menerima MBG, bersamaan dengan itu pengasuh pondok juga ada kegiatan, sehingga launching kami laksanakan hari ini,” ungkapnya, Selasa (10/02/26).
Ia juga berharap program ini tidak hanya berdampak pada peningkatan gizi peserta didik, tetapi juga memberikan efek ekonomi bagi warga sekitar.
“Semoga program MBG ini tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi saja, tetapi juga dapat menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar,” tuturnya.
Abdul Somad mengakui bahwa pengelolaan dapur SPPG bukan perkara mudah. Prosesnya dimulai sejak malam hari, mulai dari persiapan bahan, memasak, pengemasan, hingga pendistribusian ribuan porsi makanan setiap hari.
“Kami seperti melaksanakan haul setiap hari karena harus memasak ribuan porsi. Nantinya juga akan terbiasa karena ini merupakan tanggung jawab bersama demi menyelaraskan progran bapak presiden,” katanya.
Sementara itu, Kepala SPPG Pamorah, Dwi Chakti Priyo Utomo, menyampaikan bahwa pelaksanaan Program MBG dilakukan secara bertahap.
“Pada pekan pertama, distribusi difokuskan ke delapan lembaga dengan total 1.042 porsi, pada pekan kedua jumlah lembaga penerima akan diperluas menjadi 16 lembaga dengan total distribusi sekitar 1.700 porsi,” tuturnya.
Terkait sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B), Dwi menyebut program tersebut belum berjalan karena masih menunggu data valid dari puskesmas setempat.
“Segmen 3B akan menyusul. Kami perlu pendataan yang valid dan koordinasi dengan posyandu,” tutupnya.
(nardi)




