MEDAN, GEMADIKA.com – Suasana salah satu ruang kelas di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Medan Kampus IV Tuntungan siang itu terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada kantuk yang menggantung di pelupuk mata mahasiswa, meski jam menunjukkan waktu yang biasanya membuat konsentrasi menurun. Sebaliknya, puluhan pasang mata tertuju tajam ke depan, mengikuti setiap gerak-gerik Amri Abdi, S.I.Kom.

Hari itu, wartawan senior sekaligus Ketua Pengurus Ikatan Wartawan Online Sumatera Utara (IWO Sumut) tersebut tengah berbagi rahasia dapur tentang seni merangkai kata. Ia membimbing mahasiswa mendalami satu elemen paling krusial dalam jurnalisme, yakni teknik menulis lead.

“Lead itu bukan sekadar kalimat pembuka. Ia adalah kunci untuk mengikat emosi pembaca sejak detik pertama,” ujar Amri dengan nada mantap.

Bagi Amri, menulis feature bukan sekadar memindahkan fakta ke atas kertas. Ia adalah seni menenun cerita, membangun atmosfer, serta menghadirkan detail-detail kecil yang mampu memancing rasa ingin tahu pembaca. Di tangannya, sebuah tulisan diubah dari sekadar informasi kaku menjadi sebuah perjalanan emosional yang menggerakkan.

Baca juga :  ‎Hak Pendidikan Terancam! Siswa Diduga Dilarang Ikut Ujian karena Tunggakan, LPA Desak Kemendikdasmen Turun Tangan

Kegiatan bertajuk Kuliah Bersama Praktisi ini merupakan inisiatif dari dosen pengampu mata kuliah Teknik Menulis Feature dan Opini, Reviza Putra Syarif, M.I.Kom. Menurut Reviza, menghadirkan sosok praktisi berpengalaman bukan sekadar formalitas akademik, melainkan kebutuhan nyata agar mahasiswa mendapatkan perspektif langsung dari lapangan.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya terpaku pada teori di buku teks. Melalui program rutin tiap semester ini, kami ingin mereka bersentuhan langsung dengan mereka yang telah kenyang asam garam di dunia jurnalisme. Tujuannya agar lahir jurnalis-jurnalis muda yang tangguh, berdedikasi, dan memiliki ‘jiwa’ dalam setiap tulisannya,” ungkap Reviza kepada media pada Kamis (16/4/2026).

Bagi para mahasiswa, kehadiran Amri Abdi menjadi oase di tengah rutinitas perkuliahan. Mereka belajar bahwa di balik setiap baris lead yang memikat, ada ketelitian dan empati yang harus terus diasah. Sesi hari itu bukan hanya tentang teknik menyusun kalimat, tetapi juga tentang bagaimana seorang penulis mampu menempatkan diri sebagai jembatan antara informasi dan pembacanya.

Baca juga :  Bupati Batu Bara Serahkan Insentif 540 Guru Sekolah Minggu, Dorong Pendidikan Karakter dan Perangi Narkoba

Harapannya, ilmu yang diserap dari sudut ruang kelas Kampus IV Tuntungan ini akan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa, baik untuk meniti karier di dunia jurnalistik yang menantang maupun sebagai penulis kreatif yang mampu menggerakkan pikiran lewat jemarinya di masa depan.

Saat kelas berakhir, banyak mahasiswa pulang dengan catatan baru. Namun yang jauh lebih penting, mereka pulang dengan pemahaman baru bahwa sebuah tulisan yang hebat selalu dimulai dari lead yang mampu menyentuh hati pembacanya.

(W. Ardiansyah)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami