TEL AVIV, GEMADIKA.com – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memuji langkah Angkatan Laut Israel yang mencegat armada kapal kemanusiaan menuju Jalur Gaza. Ia menyebut tindakan tersebut berhasil menggagalkan apa yang disebutnya sebagai “rencana jahat” untuk menembus blokade wilayah tersebut.
“Saya meyakini Anda melakukan pekerjaan yang luar biasa… dan pada intinya telah menggagalkan rencana jahat yang dirancang untuk melanggar blokade yang telah kita terapkan terhadap teroris Hamas di Gaza,” kata Netanyahu kepada komandan militer Israel.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rekaman video yang dirilis oleh kantor pemerintah Israel, yang memperlihatkan Netanyahu berbicara langsung dengan pihak militer yang terlibat dalam operasi tersebut.
Armada yang dicegat diketahui merupakan bagian dari misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla, yang membawa bantuan untuk warga Gaza. Misi tersebut dilaporkan terdiri dari lebih dari 50 kapal yang berangkat dari perairan Turki sejak pekan lalu.
Pihak penyelenggara misi menyebut kapal-kapal mereka dicegat dan diserang oleh pasukan Israel di perairan internasional, dekat Siprus. Bahkan, kontak dengan 23 kapal dilaporkan sempat terputus.
Siaran langsung dari armada tersebut juga memperlihatkan momen ketika pasukan Angkatan Laut Israel menaiki kapal satu per satu.
Media Israel melaporkan sekitar 100 aktivis telah ditahan dalam operasi tersebut. Lima di antaranya disebut merupakan warga negara Indonesia (WNI), yang keterangannya juga dikonfirmasi oleh organisasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI).
Para aktivis dilaporkan dipindahkan ke kapal militer Israel yang disebut sebagai “penjara terapung” sebelum dibawa ke pelabuhan Ashdod di wilayah selatan Israel.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Israel menilai aksi armada tersebut sebagai bentuk provokasi dan menegaskan akan mencegah upaya apa pun untuk menembus blokade Gaza.
Pihak Israel juga membantah bahwa kapal-kapal tersebut membawa bantuan kemanusiaan. “Sejauh ini, belum ditemukan bantuan kemanusiaan di kapal-kapal mereka,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel.
Selain itu, Israel menyatakan bahwa pasokan bantuan ke Jalur Gaza masih mencukupi. Mereka mengklaim lebih dari 1,58 juta ton bantuan telah masuk sejak Oktober 2023.
Namun, kondisi di Gaza dilaporkan masih mengalami krisis kemanusiaan akibat konflik berkepanjangan, dengan keterbatasan akses terhadap pangan, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya.
Hingga kini, situasi tersebut masih menjadi perhatian dunia internasional, terutama terkait akses bantuan kemanusiaan dan keselamatan warga sipil di wilayah konflik.




