WONOSOBO, GEMADIKA.com – Fenomena embun es atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai embun upas kembali menyelimuti kawasan Dataran Tinggi Dieng pada awal Juni 2026. Suhu udara yang turun drastis hingga mencapai minus 1 derajat Celsius menyebabkan embun membeku dan menutupi rerumputan, dedaunan, serta sejumlah permukaan terbuka di kawasan pegunungan tersebut.

Kemunculan embun es ini menjadi perhatian wisatawan dan masyarakat setelah sejumlah foto dan video beredar luas di media sosial. Salah satunya diunggah melalui akun Instagram @dieng.travel yang memperlihatkan termometer menunjukkan suhu -1°C serta lapisan es tipis yang menempel pada tanaman di kawasan Dieng.

Fenomena embun upas merupakan salah satu ciri datangnya musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng yang berada pada ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Saat musim kemarau berlangsung, suhu udara pada malam hingga dini hari dapat turun secara ekstrem sehingga memicu terbentuknya kristal es di permukaan tanah dan tanaman.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa embun es terbentuk ketika suhu permukaan tanah mendekati atau berada di bawah titik beku. Dalam kondisi tersebut, uap air yang mengembun berubah menjadi lapisan kristal es yang dikenal sebagai frost atau embun upas.

Baca juga :  Kabel Baja Jembatan Gantung Garuda Desa Cingkrong Mulai Dipasang, Akses Harapan Warga Segera Rampung

BMKG menyebut fenomena ini umumnya terjadi pada periode musim kemarau, terutama antara Juni hingga Oktober. Meskipun Indonesia dikenal sebagai negara beriklim tropis dengan suhu hangat sepanjang tahun, embun es tetap dapat muncul di wilayah dataran tinggi apabila kondisi cuaca tertentu terpenuhi.

“Fenomena embun es berlangsung pada periode waktu terbatas, terutama saat musim kemarau (Juni-Oktober). Walaupun Indonesia merupakan negara tropis dengan iklim hangat (warm climate), frost dapat terjadi pada wilayah dataran tinggi apabila beberapa kondisi cuaca terpenuhi,” tulis BMKG dalam laman resminya.

Menurut BMKG, salah satu faktor utama yang memicu munculnya embun es adalah kondisi langit yang cerah tanpa tutupan awan pada malam hari. Saat langit bersih, panas dari permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer sehingga suhu udara dan permukaan tanah turun secara signifikan.

Selain dipengaruhi kondisi cuaca lokal, kemunculan embun upas di Dieng juga dapat dipengaruhi oleh dinamika iklim global seperti El Nino maupun La Nina. Karena itu, intensitas dan frekuensi kemunculannya dapat berbeda setiap tahun.

Fenomena ini memiliki dua dampak yang berbeda. Di satu sisi, embun es menjadi daya tarik wisata yang selalu dinantikan wisatawan karena menciptakan pemandangan unik layaknya musim dingin. Namun di sisi lain, suhu yang terlalu rendah dapat merusak tanaman pertanian, terutama kentang dan berbagai jenis sayuran yang menjadi komoditas utama masyarakat Dieng.

Baca juga :  Kebakaran Hebat Ludeskan 70 Persen Area Pabrik PT Dua Putra Perkasa di Pati, Penyebab Masih Diselidiki

BMKG memperkirakan suhu dingin di kawasan Dieng masih berpotensi terjadi selama musim kemarau berlangsung. Wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut diimbau membawa pakaian tebal, jaket, sarung tangan, serta perlengkapan penghangat tubuh lainnya, terutama saat beraktivitas pada malam hingga pagi hari.

Embun upas biasanya dapat disaksikan menjelang matahari terbit dan akan segera mencair ketika sinar matahari mulai menyinari permukaan tanah. Salah satu lokasi yang paling sering menjadi titik kemunculan fenomena ini adalah kawasan Kompleks Candi Arjuna yang berada di pusat wisata Dataran Tinggi Dieng.

Tak hanya dirasakan di Dieng, fenomena suhu dingin atau yang dikenal masyarakat Jawa Tengah sebagai bediding juga mulai terasa di sejumlah wilayah lain. Bahkan daerah Pantai Utara (Pantura) hingga Kota Semarang yang biasanya dikenal panas dan gerah turut merasakan udara lebih dingin pada malam hingga pagi hari selama beberapa hari terakhir.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami