JAKARTA, GEMADIKA.com – Menahan buang air kecil kerap dianggap sebagai kebiasaan sepele, terutama ketika seseorang sedang bekerja, berkendara, atau sibuk beraktivitas. Namun, para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut dapat berdampak buruk terhadap kesehatan saluran kemih apabila dilakukan secara terus-menerus.
Konsultan urologi di Manipal Hospital, India, Dr. Ankit Sharma, menjelaskan bahwa kandung kemih manusia dirancang untuk menampung urine dalam jumlah tertentu. Saat kandung kemih mulai penuh, saraf akan mengirimkan sinyal ke otak sebagai tanda bahwa tubuh membutuhkan waktu untuk buang air kecil.
Jika sinyal tersebut terus diabaikan, berbagai gangguan kesehatan dapat muncul, mulai dari infeksi saluran kemih hingga gangguan fungsi ginjal.
- Otot Kandung Kemih Menjadi Lemah
Kandung kemih memiliki sifat elastis seperti balon. Apabila terlalu sering dipaksa menahan urine, otot-otot kandung kemih akan terus meregang hingga kehilangan elastisitasnya.
Kondisi tersebut membuat otot kandung kemih menjadi lemah sehingga tidak mampu berkontraksi secara maksimal saat mengeluarkan urine.
- Memicu Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Lemahnya otot kandung kemih menyebabkan urine tidak dapat keluar secara sempurna. Sisa urine yang tertinggal di dalam kandung kemih menjadi tempat berkembang biaknya bakteri.
Akibatnya, seseorang lebih berisiko mengalami infeksi saluran kemih (ISK) yang ditandai dengan rasa nyeri saat buang air kecil, anyang-anyangan, hingga urine berbau atau berwarna keruh.
- Meningkatkan Risiko Kerusakan Ginjal
Jika kandung kemih terlalu penuh, urine dapat mengalir kembali ke saluran ureter bahkan menuju ginjal. Kondisi yang dikenal sebagai vesicoureteral reflux ini dapat membawa bakteri ke ginjal dan memicu infeksi serius.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan penurunan fungsi ginjal apabila tidak segera ditangani.
- Menyebabkan Kandung Kemih Overaktif
Kebiasaan menahan pipis juga dapat mengganggu koordinasi antara otak dan kandung kemih dalam mengatur sinyal buang air kecil.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami Overactive Bladder (OAB) atau sindrom kandung kemih overaktif. Penderita akan sering merasakan keinginan mendadak untuk buang air kecil meskipun volume urine di dalam kandung kemih sebenarnya masih sedikit.
Jangan Tunggu Sampai Terlalu Penuh
Dr. Ankit Sharma menyarankan agar masyarakat tidak membiasakan diri menunggu hingga kandung kemih terasa sangat penuh sebelum pergi ke toilet.
Idealnya, seseorang buang air kecil setiap tiga hingga empat jam sekali, tergantung pada jumlah cairan yang dikonsumsi dan aktivitas sehari-hari.
Apabila muncul keluhan seperti nyeri di perut bagian bawah, sulit buang air kecil, anyang-anyangan, atau urine tampak keruh, segera lakukan pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui penyebabnya dan mencegah komplikasi yang lebih serius.
Menjaga kebiasaan buang air kecil secara teratur merupakan salah satu langkah sederhana namun penting untuk mempertahankan kesehatan saluran kemih dan ginjal.
Dilansir dari Detikhelt.


