GROBOGAN, GEMADIKA.com — Di balik sunyinya Dusun Dlingo, Desa Juworo, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, suara alat berat kini memecah kesunyian. Bukan sekadar pekerjaan infrastruktur, tetapi aksi nyata yang lahir dari kepedulian warga. Normalisasi Kali Kidul sepanjang 1 kilometer dengan lebar 3 meter dan kedalaman 3 meter sudah mencapai sekitar 50 persen sejak dimulai sepekan lalu.

Yang membuat pekerjaan ini begitu menyentuh, normalisasi tidak menggunakan anggaran pemerintah. Seluruh pembiayaan berasal dari seorang warga dermawan, Hadi Waluyo, yang selama ini dikenal masyarakat sebagai sosok yang hadir ketika harapan mulai memudar.

Trauma Banjir Belum Sirna

Alat berat melakukan pengerukan di aliran Kali Kidul, Dusun Dlingo, sebagai bagian dari normalisasi yang didanai secara swadaya oleh warga.

Banjir yang melanda Dusun Dlingo bulan lalu masih menyisakan duka dan kecemasan. Air yang meluap dari aliran kali yang dangkal menyebabkan tanggul jebol, merendam persawahan, dan meninggalkan lumpur tebal. Lahan pertanian tak bisa digarap, sementara para petani hanya bisa menatap lahan yang berubah menjadi hamparan lumpur.

Di tengah kekecewaan warga atas minimnya tindakan cepat dari pemerintah desa, langkah Hadi Waluyo menjadi cahaya yang meredakan gelisah. Ia turun langsung ke lapangan dan menanggung seluruh biaya normalisasi tanpa menunggu bantuan maupun instruksi dari pemerintah setempat.

Kesaksian Warga: Harapan Itu Kembali

Ketua RW Dusun Dlingo, Trimo, yang mendampingi tim Gemadika di lokasi proyek, terlihat beberapa kali menatap aliran kali yang mulai kembali terbuka. Suaranya bergetar saat mengingat banjir bulan lalu.

“Kali ini dulu jebol… sawah-sawah tertutup lumpur. Kami bingung harus bagaimana. Tapi Pak Hadi datang, membantu tanpa pamrih. Orangnya baik… benar-benar tulus,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Warga lainnya, Bagio , juga mengungkapkan rasa terima kasihnya.

“Sejak banjir kemarin, kami belum dapat perhatian dari pemerintah desa. Untung ada Pak Hadi yang nggak tinggal diam. Normalisasi ini harapan kami agar panen bisa kembali,” tuturnya lirih.

Suara Mesin yang Menghidupkan Harapan

Di sepanjang aliran Kali Kidul, mesin pengeruk bekerja tanpa henti. Tumpukan lumpur, pasir, dan tanah yang menghambat aliran air dibersihkan sedikit demi sedikit. Setiap gerakan alat berat seolah mengikis beban yang selama ini dipikul warga Dusun Dlingo.

Anak-anak yang sebelumnya takut ketika hujan turun kini lebih tenang. Para petani yang sempat putus asa mulai berbicara tentang musim tanam berikutnya. Warga yang sempat merasa dibiarkan sendiri kini kembali merasakan kekuatan gotong royong dan kepedulian sesama.

Normalisasi Kali Kidul bukan sekadar pekerjaan fisik, tetapi simbol bangkitnya Dusun Dlingo dari kesedihan. Warga percaya bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya—meski tidak selalu datang dari tempat yang diharapkan.

(Gemadika.com / 29 November 2025)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami