JAKARTA, GEMADIKA.com — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menjadi sorotan setelah menyentuh level yang membuat banyak pihak khawatir. Namun Bank Indonesia (BI) tampil tenang dan optimistis, Meyakini bahwa tekanan yang terjadi saat ini hanyalah bersifat sementara dan musiman.
Mata uang Indonesia ditutup melemah sebesar 1,08 persen ke posisi Rp17.656 per dolar AS di perdagangan spot, yang dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia hingga mencapai 111 dolar AS per barel.
Gubernur BI: Ini Bukan Masalah Fundamental
Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI pada Senin (18/5/2026), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan penjelasan panjang lebar soal kondisi rupiah yang tengah tertekan.
“Pengalaman kami kalau April, Mei, Juni memang demand devisa lagi tinggi. Nanti kalau Juli, Agustus akan menguat (rupiah-nya),” ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI.
“Dari pengalaman, Juli-Agustus-September akan menguat dan kami meyakini akan kembali ke range Rp16.200–Rp16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro di APBN,” kata Perry.
Perry menjelaskan bahwa pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh dua faktor utama yang bersifat jangka pendek.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi faktor musiman dan eksternal. Lonjakan kebutuhan devisa untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, dan perjalanan haji pada April–Juni menjadi pendorong utama tingginya permintaan dolar.
Ia juga menegaskan bahwa secara fundamental, ekonomi Indonesia masih dalam kondisi baik.
“Pertumbuhan sangat tinggi 5,61 persen, inflasi rendah, kredit juga tumbuh tinggi, cadangan devisa juga kuat. Nah, ini adalah fundamental yang menunjukkan mestinya rupiah itu akan stabil dan cenderung menguat,“ ujar Perry Warjiyo.
Perry menegaskan bahwa posisi rupiah saat ini masih undervalued dan memperkirakan nilai tukar akan bergerak pada kisaran Rp16.200–Rp16.800 sepanjang tahun 2026 dengan rata-rata Rp16.500.
7 Jurus BI untuk Selamatkan Rupiah
BI tidak hanya bicara, bank sentral sudah menyiapkan tujuh langkah konkret untuk menstabilkan nilai tukar:
Pertama, meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar rupiah dari gejolak global melalui intervensi valas BI dalam jumlah besar di pasar domestik (spot & DNDF) dan luar negeri (NDF). Keempat, menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan pertumbuhan uang primer (M0) double digit sesuai koordinasi fiskal-moneter. Pertumbuhan M0 naik dari 11,8 persen pada Maret 2026 ke 14,1 persen pada akhir April 2026. Kelima, menurunkan batasan pembelian dolar di pasar domestik menjadi USD25 ribu per pelaku per bulan mulai Juni 2026 dari sebelumnya USD50 ribu per pelaku per bulan. Keenam, akselerasi pendalaman pasar valuta asing termasuk perluasan transaksi yuan dan rupiah dalam rangka Local Currency Transaction (LCT). Ketujuh, meningkatkan pengawasan kepada bank-bank dan korporasi yang melakukan transaksi pembelian dolar dalam jumlah besar.
BI mencatat telah melakukan pembelian SBN dari pasar sekunder sebesar Rp123,1 triliun sepanjang tahun berjalan ini sebagai bagian dari koordinasi fiskal-moneter.
Belajar dari Krisis 1998
BI juga memastikan langkah stabilisasi tidak akan mengorbankan likuiditas dalam negeri, mengambil pelajaran berharga dari krisis masa lalu.
Perry menegaskan BI belajar dari pengalaman krisis 1997–1998. Saat itu, fokus besar pada stabilisasi rupiah justru berujung pada pengetatan likuiditas yang memperburuk kondisi ekonomi. “Kami tidak mau itu, makanya beli SBN ke pasar sekunder. Ini sekaligus upaya agar tidak kekeringan likuiditas, dan bagian ini untuk menarik inflow,” tegas Perry.
DPR Tagih Komitmen, Menkeu Turut Angkat Bicara
Di sisi lain, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengingatkan pihak bank sentral untuk berkomitmen pada kesepakatan politik yang telah ditetapkan karena target rata-rata nilai tukar rupiah belum pernah tercapai sejak awal tahun.
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, tekanan terhadap rupiah tidak perlu disikapi secara berlebihan. “Sekarang fondasi ekonominya bagus, itu masalah sentimen jangka pendek. Jadi saya fokus jaga fondasi ekonomi dengan memastikan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu,“ ujar Purbaya.
Proyeksi Ekonom: Waspadai Risiko Lanjutan
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai BI perlu mempertimbangkan kenaikan BI Rate sekitar 50 basis poin untuk menjaga ekspektasi pasar dan mencegah tekanan lanjutan. Jika respons kebijakan lebih cepat dan kredibel, ia memperkirakan rupiah dapat kembali stabil dan menguat ke kisaran Rp16.800 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperingatkan bahwa jika harga minyak jenis Brent bertahan di atas 110 dolar AS per barel dan arus modal asing belum pulih, “rupiah bisa menguji Rp17.800.”




