JEPARA, GEMADIKA.com – Kabupaten Jepara memiliki desa unik bernama Desa Tempur yang menyimpan kekayaan alam luar biasa di lereng Pegunungan Muria. Desa ini berada di Kecamatan Keling dan dikenal sebagai wilayah dengan letak geografis tertinggi di Jepara.

Berada di ketinggian sekitar 800 hingga 1.600 meter di atas permukaan laut, Tempur kerap dijuluki sebagai “negeri di atas awan”. Permukiman warga terletak di lembah kawasan hutan pegunungan yang asri dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Secara geografis, Desa Tempur berbatasan langsung dengan Kabupaten Kudus di sebelah selatan dan Kabupaten Pati di sebelah timur. Jaraknya dari pusat Kota Jepara sekitar 52–60 kilometer dengan waktu tempuh lebih dari 1,5 jam.

Surga Wisata Alam Lereng Muria

Lingkungan Desa Tempur yang dikelilingi pepohonan rimbun menjadikannya salah satu destinasi wisata alam unggulan di Jepara.

Berbagai spot wisata tersebar di hampir setiap sudut desa, mulai dari:

gardu pandang alami di Bukit Bejagan (Dukuh Duplak)
panorama persawahan dan sungai di Dukuh Petung
spot ikonik Kaldera Muria dengan latar pegunungan
jembatan warna-warni dan spot foto perkampungan

Selain itu, pengunjung juga dapat menikmati:

Baca juga :  Pedagang Minta Revitalisasi Pasar Rembang Tak Tergesa, Soroti Kesiapan Relokasi dan Kepastian Anggaran

wisata jeep dengan rute keliling desa
river tubing di Kali Tempur
trekking menuju Puncak 29 Gunung Muria
camping ground Kopi Tempur di Dukuh Glagah

Sekretaris Desa Tempur, Mahfud Aly, mengatakan minat wisatawan terus meningkat, bahkan hingga dari luar daerah dan mancanegara.

“Kami juga memiliki camping ground Kopi Tempur dengan fasilitas lengkap. Pengunjung datang dari berbagai daerah, bahkan ada wisatawan luar negeri setelah dari Karimunjawa,” ujarnya.

Kopi Tempur, Tulang Punggung Ekonomi Warga

Selain wisata alam, Desa Tempur juga dikenal dengan produk unggulannya, yakni Kopi Tempur.

Hampir setiap keluarga di desa ini memiliki lahan kopi sebagai sumber mata pencaharian utama. Dari total luas wilayah sekitar 904,672 hektare, sekitar 352 hektare merupakan lahan perkebunan kopi.

Selain kopi, warga juga mengelola sawah, ladang jagung, serta usaha kecil yang mendukung sektor pariwisata.

Potensi Edu Wisata dan Kearifan Lokal

Desa Tempur memiliki enam dukuh, 6 RW, dan 25 RT dengan jumlah penduduk sekitar 3.642 jiwa. Selain potensi alam, desa ini juga menyimpan kekayaan budaya, sejarah, dan religi.

Permukiman tertinggi di Dukuh Duplak bahkan dikenal sebagai kawasan situs percandian purbakala.

Baca juga :  Kuliah di Bali? Ini 7 Aktivitas Seru yang Wajib Dicoba Mahasiswa Rantau

Kaprodi DKV Unisnu Jepara, Tristan Alfian, menilai Tempur memiliki potensi wisata yang lengkap dan berbeda dari desa lain di Jepara.

“Tempur punya kekuatan alam, budaya, dan kopi yang khas. Ini bisa dikembangkan menjadi paket wisata terpadu, termasuk edu wisata seperti proses menanam dan mengolah kopi,” ujarnya.

Ia juga menambahkan pentingnya inovasi produk turunan kopi, seperti:

briket dari ampas kopi
sabun kopi
olahan makanan dari kulit atau daun kopi
Butuh Branding dan Pengembangan Terarah

Pengembangan Desa Tempur sebagai desa wisata dinilai perlu didukung dengan:

penguatan branding wisata
pengembangan pusat oleh-oleh khas
peningkatan infrastruktur
inovasi produk lokal

Dengan pengelolaan yang tepat, Desa Tempur tidak hanya menjadi destinasi wisata alam, tetapi juga pusat ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

Kesimpulan

Desa Tempur merupakan permata tersembunyi di Jepara yang memadukan keindahan alam, kekayaan budaya, serta potensi ekonomi dari kopi.

Keasrian Pegunungan Muria yang mengelilinginya menjadikan desa ini sebagai destinasi wisata yang layak dikunjungi, sekaligus contoh pengembangan desa berbasis potensi lokal yang berkelanjutan

Dilansir dari Tribunjateng.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami