BANGKALAN, GEMADIKA.com – Pj. Bupati Bangkalan, resmikan peluncuran ekspor perdana komoditas ubi ke pasar internasional. Sebanyak 24 Ton ubi yang di kirim ke luar negeri merupakan hasil bumi dari petani tradisional dan milenial di Kab Bangkalan.

Ekspor komoditas ubi ini ditandai dengan pelepasan truk kontainer oleh Arief M. Edie, M.Si, bersama perwakilan PT. Sinergy Fresh Indonesia, OPD terkait, Kamar Dagang Indonesia, serta kelompok tani di Sentra IKM Bangkalan. Jumat (07/02).

Pj. Bupati Bangkalan dalam wawancaranya menyampaikan bahwa ekspor ini merupakan langkah strategis dalam upaya mendukung potensi komoditas pertanian di Kabupaten Bangkalan.

“Ini adalah langkah besar bagi petani kita dalam meningkatkan daya saing dan memperluas pasar hasil pertanian hingga ke tingkat internasional. Ekspor ini menjadi bukti bahwa produk pertanian Bangkalan memiliki kualitas dan potensi besar untuk terus dikembangkan,” ujarnya.

Baca juga :  Selama Dua Bulan, Polres Bangkalan Ungkap 16 Kasus 3C dan Tangkap 20 Tersangka

Ia menambahkan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil sinergi antara Pemerintah Kabupaten Bangkalan dengan berbagai pihak, termasuk para pengusaha muda serta Kamar Dagang Indonesia.

Ekspor komoditas ubi ini ditandai dengan pelepasan truk kontainer. (Foto Istimewa)

“Dengan ekspor ini, ubi-ubian diharapkan menjadi komoditas unggulan yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani setempat,” pungkasnya

Sementara itu Edgar Noya Cosa Aranda selaku Ketua Ayorek Jawa Timur menyampaikan, permintaan ubi ini mencapai 1000 ton dari negara tetangga yaitu Malaysia dan Singapura.

“Saya berharap peluang ini juga dapat dimanfaatkan oleh para petani karena permintaan akan komoditas ubi-ubian di pasar internasional sangat tinggi,” tuturnya.

Baca juga :  Viral! di Pandaan, CCTV Rekam Dugaan Pencurian Honda Vario, Pelaku Tinggalkan Motor Sendiri di Lokasi

Petani harus di beri pelatihan agar tau cara menanam, cara panen dan cara menjual. Semua di beri pelatihan agar ubi kita dapat di ekspor ke luar negeri.

“Saya berharap petani tidak asal tanam, petani harus merawat ubinya agar yang semula harga Rp 3.000 bisa mencapai Rp 6.000. Dan untuk petani milenial jangan pernah malu untuk meningkatkan hasil pertanian dan berdagang, karena pendapatan terbesar itu dari sektor pertanian,” tutupnya. (nardi)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami