GROBOGAN, GEMADIKA.com – Suasana meriah dan penuh makna spiritual menyelimuti jalanan Dusun Sinawah, Desa Kronggen, Kabupaten Grobogan, pada Minggu (25/5/2025).

Prosesi budaya yang dimulai pukul 10.00 WIB, mengambil rute dari titik berkumpul di Dusun Sinawah menuju Jalan Purwodadi-Kudus, kemudian kembali lagi ke titik awal. Sepanjang perjalanan, dentuman sound horeg dan teriakan riuh warga.

Yang menarik perhatian adalah kehadiran berbagai tokoh masyarakat yang turut meramaikan acara ini.

Salah satunya adalah Joko Purnomo, Owner PT Gemadika Media Sejahtera, yang juga merupakan putra asli RT 01/RW 10 Dusun Sinawah.

Joko Purnomo, Owner PT Gemadika Media Sejahtera turut serta memeriahkan karnaval.

Pria yang dikenal sebagai sosok peduli komunitas ini tampak sibuk membagikan air minum kepada para peserta karnaval, menunjukkan kepeduliannya terhadap kelestarian budaya kampung halaman.

“Sudah seharusnya kami sebagai warga ikut berpartisipasi dalam kegiatan budaya ini. Apalagi ini adalah tradisi tahunan yang menjadi identitas kampung halaman,” ujar Joko Purnomo.

Para wanita mengenakan kebaya putih tradisional Jawa turut memeriahkan prosesi kirab budaya Sedekah Bumi. (MonD/Media Gemadika)

Karnaval yang diselenggarakan setiap tahun di bulan Apitan ini bukanlah acara yang berdiri sendiri. Prosesi budaya ini merupakan puncak dari serangkaian ritual Sedekah Bumi yang telah dimulai sejak Rabu Pon (21/5/2025) dengan acara wujud syukuran dan doa bersama.

Baca juga :  Kebakaran Pabrik Ban di Purworejo, 350 Sepeda Motor Karyawan Hangus Terbakar

Pesona utama karnaval terletak pada kirab budaya dengan gunungan yang begitu memukau. Gunungan-gunungan hasil bumi yang disusun artistik ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol mendalam dari rasa syukur warga terhadap hasil pertanian yang melimpah. Setiap gunungan dihias dengan aneka hasil bumi seperti padi, jagung, singkong, dan sayur-mayur yang mencerminkan kemakmuran desa.

Gunungan hasil bumi yang disusun artistik dengan berbagai buah dan sayuran sebagai simbol syukur atas panen melimpah dalam prosesi karnaval budaya. (MonD/Media Gemadika)

“Acara ritual Sedekah Bumi dan kirab budaya ini sudah menjadi keharusan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan warga. Ini adalah warisan nenek moyang yang harus terus dijaga,” tutur salah satu tokoh warga, Fahrurrozi.

Yang membanggakan dari acara ini adalah partisipasi lintas generasi. Mulai dari kakek-nenek berusia senja hingga anak-anak kecil, semuanya terlibat dalam kemeriahan karnaval, para remaja dengan bangga mengenakan kostum tradisional Jawa.

Baca juga :  Meriah! Kirab Budaya Apitan Dusun Sinawah Grobogan Hadirkan Ogoh-ogoh hingga 10 Sound Horeg

Sepanjang rute karnaval, mata dimanjakan dengan pertunjukan seni khas Jawa yang beragam, tarian-tarian tradisional dipersembahkan dengan penuh penghayatan, diiringi sound horeg yang menggema ke seluruh penjuru desa. Warna-warni kostum tradisional yang dikenakan peserta menciptakan panorama visual yang menawan, seolah membawa penonton melakukan perjalanan waktu ke masa kejayaan budaya Jawa.

foto dok. gemadika

Acara Sedekah Bumi ini terbukti lebih dari sekadar pelestarian budaya. Kegiatan tahunan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat solidaritas dan kebersamaan masyarakat Dusun Sinawah. Di tengah era digital yang semakin individualistis, tradisi ini hadir sebagai perekat sosial yang mengingatkan pentingnya gotong royong dan kekompakan warga.

Para pedagang kaki lima pun turut merasakan berkah dari acara ini. Sepanjang rute karnaval, lapak-lapak kecil menjual berbagai makanan tradisional dan minuman segar kepada pengunjung yang datang dari berbagai daerah untuk menyaksikan kemeriahan Sedekah Bumi. (redaksi)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami