BANDA ACEH, GEMADIKA.com –  Dalam rangka memperingati Hari Pengungsi Sedunia 2025 yang jatuh pada 20 Juni dan mengusung tema “Solidarity with Refugees”, Dewan Pimpinan Wilayah Sekber Wartawan Indonesia (DPW SWI) Provinsi Aceh menyerukan pentingnya membangun solidaritas nyata dan berkelanjutan terhadap para pengungsi yang kian menghadapi tantangan kemanusiaan global.

Sekretaris DPW SWI Aceh, Adhifatra Agussalim, CIP, CIAPA, CASP, CPAM, C.EML, menyatakan keprihatinannya terhadap situasi pengungsi yang masih kerap terabaikan dari pusat perhatian kebijakan dan pemberitaan.

“Aceh pernah menjadi rumah bagi para pencari suaka, termasuk pengungsi Rohingya. Ini bukti bahwa nilai-nilai kemanusiaan masih hidup di Tanah Rencong. Tapi kita tak boleh lengah, perlu konsistensi dalam advokasi dan keberpihakan,” ujar Adhifatra, Senin (23/06/2025).

Baca juga :  Sambut Iduladha 1447 H, Pemkab Nagan Raya Gelar Gerakan Pangan Murah di 10 Kecamatan

Media sebagai Penggerak Empati

Adhifatra menekankan bahwa media memiliki peran krusial dalam membangun empati publik dan mendorong lahirnya kebijakan yang manusiawi.

“Jangan sampai isu pengungsi hanya dilihat sebagai beban. Media harus menjadi penggerak empati, bukan sekadar pelapor tragedi,” tegasnya.

Ia juga mengajak para jurnalis, khususnya di Aceh, untuk menyuarakan narasi yang berpihak pada keadilan dan tidak mendiskreditkan kelompok rentan seperti pengungsi.

Dukungan untuk Kegiatan “Refugees Voices”

Sebagai bentuk nyata solidaritas, DPW SWI Aceh turut mendukung kegiatan UNHCR bertajuk “Refugees Voices: A Month of Stories and Solidarity”, yang mengangkat kisah perjalanan para pengungsi dan perjuangan mereka dalam proses integrasi sosial.

Baca juga :  Harkitnas ke-118: Indonesia Bangkit Hari Ini — Bukan Hari Libur, tapi Penuh Makna!

Rangkaian kegiatan tersebut meliputi:

  •  Documentary screening,
  • Talkshows,
  • Art exhibition,
  • Public discussion,
  •  Reading corner,
  •  Sport activities, dan
  •  Bazaar solidaritas.

    Aceh Sebagai Model Nasional Penanganan Pengungsi

Menurut Adhifatra, pengalaman Aceh dalam menyambut dan melindungi pengungsi, khususnya etnis Rohingya, bisa menjadi model nasional, bahkan regional, asalkan ditopang oleh koordinasi aktif antara pemerintah, masyarakat sipil, dan media.

“Solidaritas bukan sekadar empati sesaat. Ini soal keberpihakan jangka panjang pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan global,” pungkasnya.

(Rahmat P Ritonga)

 

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami