WINI, GEMADIKA.com – Ditemukannya seekor paus raksasa sepanjang 8 meter dalam kondisi terdampar dan mati di pantai Temkuna, Desa Humusu Wini, Kecamatan Insana Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, pada Rabu (30/7/2025) pagi.
Penemuan mamalia laut berukuran kolossal ini menjadi fenomena langka kedua dalam kurun waktu 40 tahun terakhir, setelah kejadian serupa pada tahun 1985.
Warga setempat yang segera bergerak gotong royong untuk mengevakuasi bangkai paus dan membagikan dagingnya kepada masyarakat.
Penemuan Mengejutkan di Pagi Hari
Kejadian bermula saat sekelompok nelayan hendak melaut sekitar pukul 07.00 WITA.
Mereka terkejut melihat benda asing berukuran besar mengapung di permukaan air. Karena rasa penasaran, para nelayan mendekatinya menggunakan perahu motor.
Alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari bahwa benda tersebut adalah seekor paus besar, jauh melebihi ukuran perahu yang mereka gunakan. Di tubuh paus tersebut tampak sejumlah luka, meski belum diketahui pasti penyebab kematiannya.
“Ini ikan besar, ini hari kita makan besar!” teriak sejumlah warga dengan semangat, menggambarkan kekaguman mereka terhadap penemuan langka ini.
Koordinasi Lintas Instansi
Warga yang menemukan segera menghubungi pihak berwenang. Nelayan setempat melaporkan penemuan ini kepada Polsek Insana Utara, Koramil 1618/03 Insana Utara, dan Camat Insana Utara.
Kepala Sub Seksi Pengelolaan Informasi Dokumentasi Media (PIDM) Sihumas Polres TTU, Ipda Markus Wilco Mitang, mengonfirmasi penemuan tersebut. “Ya, kondisinya sudah mati saat ditemukan,” ujar Ipda Markus Wilco Mitang.
Petugas yang mendapat laporan langsung turun ke lokasi. Yang lebih mengejutkan, Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, juga turut mengecek langsung penemuan paus raksasa di Pantai Temkuna, menunjukkan perhatian serius pemerintah daerah terhadap kejadian ini.
Evakuasi Gotong Royong Masyarakat
“Sampai dengan saat ini bangkainya belum dievakuasi ke darat,” sebut Wilco saat pertama kali ditemukan.
Namun, semangat gotong royong masyarakat tidak bisa dibendung. Warga berbondong-bondong mendatangi lokasi untuk melihat langsung mamalia laut raksasa tersebut. Banyak yang mengabadikan momen bersejarah ini melalui ponsel mereka, sebagian lainnya terdiam menyaksikan keajaiban alam dengan rasa takjub.
Nelayan asal wilayah setempat, Jimmy Bubun, ketika dikonfirmasi wartawan membenarkan adanya penemuan hewan raksasa laut yang terdampar di perairan Pantai Temkuna. “Ikan paus yang ditemukan itu sudah mati sehingga masyarakat langsung potong dan dagingnya dibagi ke masyarakat,” ungkapnya.
Fenomena Langka 40 Tahun
Bupati TTU menyebut ini sebagai kasus kedua paus terdampar di TTU sejak tahun 1985. “Sekarang kedua di 2025. Lebih besar dan kalau dibagi satu desa pun dagingnya tidak habis,” tukas Bupati Yosep Falentinus Delasalle Kebo.
Pada kejadian 40 tahun lalu, warga juga membagi-bagi daging paus kepada warga desa. Namun, paus yang ditemukan kali ini jauh lebih besar dan dagingnya bahkan bisa dibagikan untuk beberapa desa.
Koordinasi dengan Instansi Konservasi
Wilco menjelaskan bahwa Bupati TTU sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT dan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang untuk penanganan lebih lanjut.
“Masih koordinasi agar membantu evakuasi dan selanjutnya dikuburkan,” ucap Wilco.
Kepala BKKPN Kupang, Imam Fauzi, menjelaskan anggotanya sedang dalam perjalanan ke lokasi untuk penanganan paus terdampar tersebut. “Kalau sudah ada bahan, nanti beta (saya) informasikan,” jelas Imam.
Proses Pembagian untuk Masyarakat
Jimmy Bubun menambahkan bahwa paus yang terdampar di pesisir Pantai Temkuna tersebut memiliki panjang kurang lebih delapan meter. Diduga kuat, paus tersebut sudah mati karena badannya penuh dengan luka yang menyebar di hampir sebagian besar tubuhnya.
Warga yang baru pertama kali melihat secara langsung paus sebesar ini, tanpa ragu membantu dalam proses evakuasi. Tak sedikit yang bersorak-sorai karena merasa peristiwa ini adalah kejadian luar biasa yang mungkin tidak akan mereka saksikan lagi.
Sejumlah warga telah memotong dan menguliti bagian punggung paus ini secara gotong royong. Dalam beberapa video yang beredar, tampak beberapa pria tengah memotong kulit hewan raksasa ini, sementara yang lainnya membantu dari perahu.
Rencana Penguburan untuk Mencegah Pencemaran
Bupati TTU menjelaskan bahwa setelah dagingnya dibagikan kepada masyarakat, sisa bangkai paus akan dikuburkan untuk mencegah bau menyengat yang dapat meresahkan warga.
“Untuk dikuburkan agar tak menimbulkan bau bangkai yang meresahkan warga,” tegasnya.
Bupati juga meninjau langsung untuk mengetahui apakah paus ini terdampar karena terkena karang atau karena salah arah, sebagai upaya memahami penyebab kematian mamalia laut raksasa ini. (Mond)


