GROBOGAN, GEMADIKA.com – Musim panen tembakau tahun ini di wilayah Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, kembali menghadirkan tantangan berat bagi para petani. Cuaca yang tidak menentu dan harga jual yang masih jauh dari harapan membuat usaha pertanian tembakau terasa semakin berat.

Di Dusun Nggrandah, Desa Nggrandah, salah satu petani tembakau bernama Suparman mengungkapkan bahwa proses budidaya tembakau merupakan pekerjaan panjang dan penuh ketelitian. Dari mulai pembibitan hingga panen memakan waktu hingga 123 hari, dengan masa panen dilakukan secara bertahap hingga tiga kali.

“Usia tembakau sekitar 60 hari sudah bisa mulai dipetik. Dua hari sekali bisa panen sebagian. Di pemetikan ketiga biasanya daunnya sudah matang dan warnanya bagus,” jelas Suparman kepada GEMADIKA.Com, Sabtu (26/7/2025).

Namun hasil kerja keras ini seringkali tak sebanding dengan hasil yang diperoleh, terutama karena faktor alam dan pemasaran yang tidak berpihak.

Petani Mandiri Tanpa Mitra: Mengandalkan Tengkulak

foto dok.Gemadika.com Sabtu (26/7/2025)

Berbeda dengan petani Desa Kenteng yang sebagian besar telah bermitra dengan perusahaan rokok, petani di Nggrandah masih mengelola usaha secara perorangan tanpa kepastian pembeli tetap.

Baca juga :  Desa Karangrejo Grobogan Masuk Program Nasional, KDKMP Siap Dorong Ekonomi dan Ketahanan Pangan

“Kalau petani di sini sistemnya masih perorangan. Jadi musim tembakau ya nunggu pembeli atau penebas. Beda dengan Desa Kenteng yang sudah punya mitra perusahaan, jadi harganya relatif lebih jelas,” tambah Suparman.

Kondisi ini membuat petani sangat bergantung pada tengkulak atau penebas yang menentukan harga secara sepihak.

Cuaca Jadi Musuh Utama di Ladang Tembakau

foto bapak suparmin dan pak iswan dok gemadika.com Sabtu (26/7/2025)

Dengan lahan tembakau yang diperkirakan mencapai 300 hektare, sebenarnya potensi hasil panen cukup besar. Namun, kondisi cuaca yang tak menentu, terutama hujan di luar musim, membuat pertumbuhan tanaman tidak optimal.

“Wilayah selatan ini sering terganggu hujan saat masa pertumbuhan. Jadi tanaman tidak bisa maksimal tumbuhnya,” jelas Suparman.

Harga Tak Kunjung Stabil, Produksi Tak Tertutupi

Meski kualitas tembakau yang dihasilkan petani cukup baik, harga jual belum mampu menutupi biaya produksi. Ketidakstabilan harga menjadi masalah utama yang dirasakan langsung oleh para petani.

“Harganya belum masuk. Untuk petani, ya terasa berat. Kualitas sudah bagus, tapi harganya belum stabil. Masih terlalu rendah untuk menutup biaya produksi,” keluhnya.

Baca juga :  Meriah! Kirab Budaya Apitan Dusun Sinawah Grobogan Hadirkan Ogoh-ogoh hingga 10 Sound Horeg

Bantuan Pemerintah: Ada, Tapi Tidak Rutin

Dari sisi dukungan pemerintah, para petani mengakui pernah menerima bantuan dari dinas pertanian. Namun bantuan tersebut bersifat tidak merata dan bergilir, sehingga tidak bisa diandalkan setiap tahun.

“Ada sih bantuan, tapi tidak setiap tahun. Biasanya sistem giliran antar desa atau kecamatan. Jadi kami harus menunggu dan mencari informasi kalau ada program bantuan,” terang Iwadi, petani dari Desa Nggrandah.

Harapan Petani: Perhatian Nyata, Kepastian Harga

Para petani tembakau di Nggrandah maupun Kenteng berharap pemerintah tidak hanya hadir saat program tertentu, tetapi memberikan pendampingan berkelanjutan. Mereka juga menginginkan akses pasar yang lebih terbuka, termasuk kepastian harga agar usaha bertani tetap bisa dijadikan sumber penghidupan.

“Kami butuh perhatian yang rutin, bukan hanya insidental. Termasuk pembinaan dan kepastian harga, supaya tembakau tetap bisa jadi penghidupan yang layak bagi kami,” pungkas Suparman.

(Joko P)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami