CIREBON, GEMADIKA.com – Kehidupan sehari-hari ratusan keluarga di Kampung Kalilunyu kini berubah drastis. Air sumur yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan mereka, kini tak lagi layak digunakan akibat pencemaran dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kopiluhur.

Warga RT/RW 04, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti ini mengeluhkan kondisi air sumur yang berubah keruh, berbau menyengat, dan menimbulkan masalah kesehatan. Lokasi pemukiman yang hanya berjarak kurang dari satu kilometer dari TPA Kopiluhur menjadi penyebab utama permasalahan ini.

Sumur Ditutup, Kesehatan Terganggu

“Air sumur kami kini tidak bisa digunakan lagi untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkap Asep Hidayatullah, Ketua RT 04 Kampung Kalilunyu, saat ditemui di lokasi, Kamis (7/8/2025).

Dampak pencemaran ini tidak main-main. Beberapa warga yang nekat tetap menggunakan air sumur mengalami gangguan kesehatan serius, seperti gatal-gatal dan berbagai penyakit kulit lainnya. Kondisi inilah yang memaksa warga untuk menutup sumur mereka satu per satu.

Sri Hayati (39), salah seorang warga yang terdampak, menceritakan pengalaman pahitnya. “Sudah tidak saya gunakan lagi karena berbau dan warnanya pun keruh,” tuturnya dengan nada prihatin.

Ibu rumah tangga ini sudah dua tahun menutup sumur miliknya setelah keluarganya mengalami masalah kulit akibat menggunakan air yang tercemar. “Airnya keruh dan agak bau. Kalau musim hujan lebih parah lagi keruh sama baunya. Jadi sudah dua tahun sumurnya saya tutup karena keruh dan bau, tidak bisa dipakai lagi,” jelasnya.

Baca juga :  Bangkit Lagi! Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp25.000 — Cek Daftar Harga Lengkap Semua Pecahan

Beban Ekonomi Bertambah

Penutupan sumur ini tentu saja menambah beban ekonomi keluarga. Sri kini terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air galon guna memenuhi kebutuhan minum dan memasak. “Kalau untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makan dan minum saya beli air galon isi ulang,” katanya.

Untuk kebutuhan mandi dan mencuci, warga secara mandiri membuat sumur bor dengan kedalaman hingga 16 meter. Namun, solusi ini juga membutuhkan investasi yang tidak sedikit bagi warga yang mayoritas berpenghasilan menengah ke bawah.

Asep menyebutkan, setiap keluarga kini membutuhkan sedikitnya tiga galon air per minggu untuk memasak dan minum. Air galon tersebut dibeli dengan harga Rp 5.000 per galon, yang berarti setiap keluarga harus mengeluarkan tambahan biaya Rp 15.000 per minggu atau sekitar Rp 60.000 per bulan.

Posisi TPA yang Problematis

Permasalahan ini semakin kompleks karena posisi geografis yang tidak menguntungkan. TPA Kopiluhur berada di ketinggian, sementara pemukiman warga berada di bawahnya. Kondisi ini memungkinkan limbah dari TPA merembes ke dalam tanah dan mencemari sumber air tanah di wilayah pemukiman.

“Kami berharap Pemerintah Kota Cirebon bisa bergerak dan membantu menanggulangi pencemaran sumur milik warga,” harap Asep.

Baca juga :  Harkitnas ke-118: Indonesia Bangkit Hari Ini — Bukan Hari Libur, tapi Penuh Makna!

Menurut Asep, dugaan pencemaran semakin kuat karena TPA Kopiluhur menerapkan metode open dumping selama puluhan tahun. Metode pembuangan sampah terbuka ini memungkinkan sampah menumpuk tanpa pengolahan yang memadai, sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan yang serius.

Keluhan Belum Ditanggapi

Frustasi mulai dirasakan warga karena keluhan yang sudah disampaikan ke kelurahan setempat belum mendapat respons yang memadai. Tidak ada tindakan konkret yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini.

“Kami berharap Dinas Lingkungan Hidup bisa menangani TPA Kopiluhur secara serius dan sesuai aturan,” kata Asep dengan nada berharap.

Sebagai langkah terakhir, Asep berencana mengajukan permohonan audiensi langsung dengan Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, untuk menyampaikan masalah ini secara langsung dan mencari solusi yang tepat bagi warganya.

Dampak Jangka Panjang

Pencemaran air sumur ini bukan hanya masalah kesehatan sesaat, tetapi juga mengancam keberlanjutan hidup warga dalam jangka panjang. Ketergantungan pada air galon dan pembuatan sumur bor yang lebih dalam menunjukkan betapa seriusnya permasalahan ini.

Jika tidak segera ditangani dengan baik, dikhawatirkan pencemaran akan semakin meluas dan mengancam kesehatan lebih banyak warga di sekitar TPA Kopiluhur. (***)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami