JAKARTA, GEMADIKA.com – Setiap tanggal 18 Oktober, dunia memperingati World Menopause Day atau Hari Menopause Sedunia, sebuah momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan besar yang dialami perempuan saat memasuki masa menopause.
Menopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan ketika menstruasi berhenti secara permanen. Fase ini terjadi setelah seorang perempuan tidak mengalami haid selama 12 bulan berturut-turut tanpa sebab medis lainnya.
Mengutip informasi dari National Health Service (NHS), menopause umumnya terjadi pada rentang usia 45 hingga 55 tahun, meskipun setiap perempuan bisa mengalaminya pada usia yang berbeda. Di Indonesia, rata-rata perempuan mulai mengalami menopause setelah usia 50 tahun.
Gejala Menopause yang Perlu Diketahui
Perubahan hormonal yang drastis selama fase ini dapat memicu berbagai gejala, baik fisik maupun psikologis. Melansir penjelasan dari dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Amira, yang dibagikan melalui akun TikTok miliknya, berikut sejumlah gejala yang umum dialami perempuan saat menopause:
- Menstruasi Tidak Teratur
Sebelum berhenti sepenuhnya, siklus menstruasi menjadi tidak teratur kadang lebih pendek, kadang lebih panjang. - Hot Flashes
Sensasi panas mendadak pada tubuh, terutama di malam hari, sering disertai dengan keringat dingin. - Gangguan Tidur
Perempuan sering mengalami insomnia atau mudah terbangun di malam hari akibat fluktuasi hormon. - Perubahan Mood
Kadar estrogen yang menurun memicu gangguan suasana hati, seperti mudah marah, cemas, atau merasa tertekan. - Kenaikan Berat Badan
Metabolisme tubuh melambat, sehingga lebih mudah mengalami penambahan berat badan meski pola makan tidak berubah drastis. - Rambut Rontok dan Kering
Rambut menjadi lebih tipis, kering, dan mudah rontok. - Kekeringan Vagina
Penurunan kadar estrogen menyebabkan kekeringan pada area vagina, yang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman saat beraktivitas. - Sering Buang Air Kecil
Otot kandung kemih menjadi lebih lemah, menyebabkan frekuensi buang air kecil meningkat atau sulit dikendalikan. - Nyeri Sendi dan Tulang
Penurunan kepadatan tulang menyebabkan rasa nyeri pada sendi, serta meningkatkan risiko osteoporosis.
Manfaat dan Risiko Menopause
Meski menopause kerap menimbulkan ketidaknyamanan, terdapat juga sisi positifnya. Salah satunya adalah berakhirnya menstruasi, sehingga perempuan tak lagi mengalami nyeri haid, perubahan suasana hati akibat PMS, atau ketergantungan pada produk menstruasi.
Namun, seperti dijelaskan oleh Australasian Menopause Society, fase ini juga membawa beberapa risiko kesehatan. Penurunan hormon estrogen dapat meningkatkan risiko:
- Osteoporosis (pengeroposan tulang)
- Penyakit jantung
- Disfungsi seksual
- Masalah metabolisme dan tekanan darah
Karena itu, penting bagi perempuan untuk mulai menjalani gaya hidup sehat, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi tinggi kalsium dan vitamin D, serta rutin berkonsultasi dengan dokter untuk pemantauan kondisi tubuh.
Apa Itu World Menopause Day?
World Menopause Day pertama kali diperingati pada tahun 1984 oleh World Health Organization (WHO) dan International Menopause Society (IMS). Tujuannya adalah untuk menyebarkan informasi dan edukasi seputar menopause serta mendorong perempuan agar memahami kondisi tubuh mereka dengan lebih baik.
Mengutip dari laman International Menopause Society, ada tiga tujuan utama dari peringatan ini:
- Meningkatkan Kesadaran
Mengedukasi masyarakat mengenai apa itu menopause, bagaimana mengenali gejalanya, dan cara mengelola dampaknya secara tepat. - Mendorong Kesehatan Perempuan
Menyadarkan pentingnya menjaga kesehatan tulang dan jantung, serta melakukan pencegahan terhadap risiko-risiko penyakit yang berkaitan dengan menopause. - Memberikan Dukungan Emosional
Membantu perempuan menghadapi perubahan besar ini dengan dukungan psikologis dan komunitas yang memahami kondisi mereka.
Menopause: Fase Alami yang Perlu Dimengerti
Menopause bukanlah penyakit, melainkan bagian alami dari perjalanan hidup seorang perempuan. Dengan informasi yang cukup, pola hidup sehat, dan dukungan dari keluarga serta lingkungan, setiap perempuan bisa melalui fase ini dengan percaya diri dan tetap menjaga kualitas hidup.
sumber :detik.com




