GROBOGAN, GEMADIKA.com – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan gempuran musik modern, musik rebana di Desa Plosorejo, Kemloko, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, justru tetap bertahan dan semakin hidup.
Seni musik bernuansa religi yang sarat nilai spiritual ini terus dilestarikan oleh generasi muda setempat, menjadi simbol cinta budaya sekaligus warisan dakwah para wali.
Salah satu kelompok musik rebana yang aktif di desa ini adalah Grup Rebana Assalam, yang berdiri sejak tahun 2018. Grup ini dikenal rutin tampil dalam berbagai acara keagamaan dan kegiatan masyarakat.
“Rebana sudah terbentuk dari tahun 2018. Ini sudah sering show dapat job ribuan kali,” ujar Misbah Lutfi, pembina Grup Rebana Assalam, saat ditemui Tim Gemadika, Kamis (16/10/2025).
Misbah menuturkan, tujuan utama grup rebana ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga sebagai media dakwah yang mengandung pesan-pesan moral dan spiritual.
“Nguri-nguri musik peninggalan para wali untuk berdakwah,” katanya.
Grup Rebana Assalam saat ini beranggotakan 20 pemain, yang mayoritas adalah kaum muda. Mereka memainkan alat musik rebana dengan semangat tinggi, menunjukkan bahwa seni tradisi tidak selalu identik dengan generasi tua.
Kehadiran para pemuda dalam melestarikan rebana menjadi harapan baru agar kesenian ini tetap lestari di masa depan. Melalui kegiatan rutin dan tampil di berbagai hajatan, mereka berupaya menjaga agar musik hadroh ini tidak hilang ditelan zaman.
Di Desa Plosorejo RT 06 RW 02, gema rebana kerap terdengar saat malam hari atau menjelang acara keagamaan. Suara tabuhan dan lantunan shalawat yang menggema menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Melalui semangat para pemuda, rebana di Plosorejo kini bukan hanya sekadar tradisi, melainkan warisan spiritual yang menguatkan nilai-nilai kebersamaan, religiusitas, dan cinta terhadap ajaran para wali.(Tri Handojo)




