REMBANG, GEMADIKA.com- Berawal dari hanya membuat dua lembar batik dengan modal hasil pelatihan dan dukungan permodalan, Sri Winarti kini berhasil mengembangkan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Sumber Rejeki di Desa Babagan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Produk batik tulis yang dihasilkannya kini tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar Malaysia.

‎Sri Winarti, yang akrab disapa Bu Win, mengatakan telah berkecimpung di dunia batik selama sekitar 16 tahun. Kemampuan membatik diperolehnya sejak masih duduk di bangku sekolah dasar karena tumbuh di lingkungan keluarga pembatik.

‎”Sejak kelas 3 SD saya sudah belajar membatik. Nenek dan ibu saya juga pembatik, jadi saya ikut belajar sejak kecil,” ujarnya saat ditemui di lokasi produksi KUB Sumber Rejeki, Senin (13/7/2026).

Proses mencanting Batik Tulis Lasem di kediaman sekaligus tempat produksi KUB Sumber Rejeki, Desa Babagan, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Senin (13/7/2026).

‎Sebelum memiliki usaha sendiri, Sri Winarti bekerja sebagai perajin di salah satu usaha batik turun-temurun di Lasem. Kesempatan untuk mandiri datang setelah mengikuti pelatihan yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Rembang. Dari pelatihan tersebut, ia memperoleh bekal keterampilan usaha dan dukungan permodalan dari perbankan untuk memulai produksi.

‎”Awalnya saya hanya membuat dua lembar batik. Setelah terjual, hasilnya saya gunakan untuk membuat lagi. Pelan-pelan berkembang sampai akhirnya bisa memiliki karyawan,” katanya.
‎Menurutnya, saat ini terdapat lebih dari 70 pelaku usaha batik di Kecamatan Lasem. Masing-masing memiliki karakter dan motif yang menjadi ciri khas.

‎Salah satu produk unggulan KUB Sumber Rejeki adalah Batik Tiga Negeri, yang memadukan warna merah darah ayam, soga cokelat, dan biru dalam satu lembar kain. Motif tersebut menjadi salah satu identitas Batik Lasem yang diwariskan secara turun-temurun.

‎”Batik Lasem memiliki ciri khas pada goresan motif yang halus dan rapat. Untuk Batik Tiga Negeri, proses pengerjaannya bisa mencapai tiga sampai lima bulan untuk satu lembar kain,” jelasnya.

‎Sementara batik dengan satu atau dua warna umumnya dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan.

‎Saat ini KUB Sumber Rejeki mempekerjakan sekitar 10 perajin dan mampu memproduksi rata-rata sekitar 50 lembar batik setiap bulan.

‎Dalam memasarkan produknya, KUB Sumber Rejeki memanfaatkan berbagai platform digital, seperti TikTok, Shopee, dan WhatsApp melalui akun Pusat Batik Lasem, di samping penjualan secara langsung.

‎Upaya tersebut turut membuka peluang pasar internasional. Sri Winarti mengungkapkan produknya telah dipasarkan ke Malaysia setelah bertemu pembeli dalam sebuah pameran.

‎”Pengiriman ke Malaysia dilakukan secara berkelanjutan. Nilainya sekitar Rp15 juta setiap pengiriman. Yang paling diminati di sana batik dengan warna-warna cerah,” ungkapnya.

‎Untuk memenuhi kebutuhan produksi, bahan baku masih didatangkan dari Pekalongan dan Solo. Menurutnya, pasokan bahan baku relatif tidak mengalami kendala. Tantangan utama justru berasal dari semakin ketatnya persaingan pasar dan minimnya regenerasi perajin.

‎”Banyak anak muda sekarang memilih bekerja di pabrik. Akibatnya, semakin sedikit yang mau menjadi perajin batik. Padahal mereka sebenarnya memiliki kemampuan membatik karena berasal dari keluarga pembatik,” tuturnya.

‎Meski demikian, ia mengaku tetap optimistis mengembangkan usahanya melalui inovasi produk dan pemasaran digital, sembari berharap Batik Tulis Lasem terus diminati masyarakat dan mampu bertahan sebagai warisan budaya.

‎Semangat yang sama juga ditunjukkan para perajin di KUB Sumber Rejeki. Rosiah, warga Desa Pandan, Kecamatan Pancur, telah bekerja selama 10 tahun pada bagian nglengreng, yakni menggambar sekaligus mengisi pola batik menggunakan canting. Menurutnya, salah satu motif unggulan yang diproduksi adalah Sekar Jagad.

‎”Harapan saya usaha batik ini terus berkembang sehingga anak cucu kita juga bisa melanjutkan warisan membatik,” ujarnya.

‎Sementara itu, Wiwik, warga Desa Dasun, Kecamatan Lasem, telah menjadi perajin batik selama kurang lebih 13 tahun. Ia bertugas pada proses menembok, yakni menutup bagian motif menggunakan lilin agar tidak terkena warna saat proses pewarnaan.

‎Menurut Wiwik, pengerjaan Batik Tiga Negeri maupun Empat Negeri membutuhkan ketelitian tinggi karena memiliki detail motif yang rumit.

‎”Ketekunan dan semangat menjadi modal utama menjadi perajin. Kami bekerja untuk membantu perekonomian keluarga sekaligus menjaga agar Batik Lasem tetap lestari,” katanya.

‎Di tengah perubahan pola kerja masyarakat dan semakin berkurangnya minat generasi muda terhadap profesi pembatik, KUB Sumber Rejeki terus mempertahankan tradisi Batik Tulis Lasem melalui produksi, inovasi, dan pemasaran yang lebih luas. Bagi Sri Winarti, keberhasilan menembus pasar luar negeri bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan bagian dari upaya memastikan warisan batik Lasem tetap hidup dan memiliki penerus di masa mendatang.

Baca juga :  Aktivitas Pelabuhan Sluke Berjalan, Kontribusi ke PAD Rembang Masih Nihil

Penulis : Aziz
Editor : Rini

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami