GROBOGAN, GEMADIKA.com — Di saat banyak desa masih berkutat dengan pelayanan lambat dan sistem administrasi manual, Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, justru melaju lebih cepat dan progresif. Desa ini membuktikan bahwa kemajuan desa bukan sekadar slogan, melainkan hasil dari keberanian mengambil langkah nyata dan terukur.
Tambirejo secara konsisten menempatkan pelayanan dan kenyamanan warga sebagai prioritas utama, bukan sekadar formalitas administratif. Setiap fasilitas publik yang dibangun diarahkan untuk fungsi yang jelas dan berdampak langsung bagi masyarakat, bukan demi pencitraan semata.
Salah satu terobosan yang menonjol adalah penyediaan ruang rapat koordinasi dan ruang meeting Zoom. Fasilitas ini tidak hanya digunakan oleh perangkat desa, tetapi juga dibuka untuk masyarakat, sebagai ruang diskusi, koordinasi, dan penyampaian aspirasi.
Langkah tersebut menjadi penegasan bahwa pemerintahan desa harus terbuka dan inklusif. Ruang komunikasi disiapkan, dialog diperluas, dan warga diberi akses langsung untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan desa.
Kepala Desa Tambirejo, Yakup Raras Puspitanianto, menegaskan bahwa transparansi bukanlah pilihan, melainkan kewajiban dalam tata kelola pemerintahan desa.
“Kalau tidak transparan, aspirasi warga akan tersumbat. Karena itu harus ada ruang bersama untuk menyampaikan pendapat, kritik, dan masukan. Ruang meeting Zoom ini kami siapkan agar tidak ada jarak antara pemerintah desa dan masyarakat,” tegas Yakup kepada Tim Gemadika.
Selain itu, digitalisasi pelayanan desa telah diterapkan secara bertahap. Administrasi desa diarahkan meninggalkan pola lama yang berbelit, lamban, dan rawan keterlambatan. Sistem berbasis digital dipilih sebagai jawaban atas tuntutan zaman sekaligus bentuk tanggung jawab moral pemerintah desa kepada warganya.
Keunggulan Tambirejo juga ditopang oleh perangkat desa yang relatif muda dan adaptif terhadap teknologi. Kondisi ini menjadi pembeda signifikan dibandingkan desa-desa lain yang masih tertinggal karena enggan berubah dan takut berinovasi.
Menjelang satu tahun terakhir masa jabatannya, Yakup menyadari bahwa jabatan bukan sesuatu yang abadi. Oleh karena itu, fokus kepemimpinannya bukan sekadar menyelesaikan masa tugas, tetapi meninggalkan sistem dan tata kelola yang berkelanjutan.
“Saya tidak ingin hanya meninggalkan nama. Yang lebih penting adalah sistem dan cara kerja yang bisa dilanjutkan. Kalau pemimpin berganti tapi tata kelola tetap jalan, itu baru keberhasilan,” ujarnya.
Kini, Desa Tambirejo berdiri sebagai cermin sekaligus tamparan bagi desa-desa lain yang masih stagnan. Tambirejo membuktikan bahwa desa mampu bersaing dan maju, asalkan berani berubah, terbuka terhadap kritik, dan serius membangun sistem, bukan sekadar proyek.
Penulis : Joko Purnomo





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan