BATU BARA, GEMADIKA.com – Antrean panjang terjadi di SPBU 14212296 Kecamatan Datuk Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara, pada Jumat (04/12/2025). Warga rela menunggu sejak pukul 16.00 WIB hingga malam hari untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Pertamax yang sempat habis. Truk pemasok BBM baru tiba sekitar pukul 21.00 WIB, membuat warga bertahan berjam-jam demi mengisi bahan bakar kendaraan mereka.
Pantauan Gemadika.com menunjukkan ratusan sepeda motor, puluhan mobil, dan warga yang membawa botol minuman mineral memenuhi area SPBU. Suasana sempat padat dan menegangkan akibat banyaknya warga yang datang dari berbagai daerah sekitar untuk mendapatkan BBM setelah stok di SPBU habis sejak sore.

Kelangkaan BBM ini memicu warga berbondong-bondong datang ke SPBU, termasuk pedagang kecil dan masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota. Situasi diperparah oleh berhentinya sementara penjualan BBM eceran di sejumlah desa, sehingga warga tidak memiliki pilihan lain selain mengantre langsung di SPBU.
Di tengah antrean, sejumlah personel Satpol PP Kabupaten Batu Bara terlihat menyapa dan menenangkan warga. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya berharap kondisi bisa kembali normal.
“Berharap pulih kembali seperti biasanya agar diizinkan pembeli untuk pedagang eceran yang jauh dari SPBU, agar tidak seperti ini berdesakan,” ujarnya.
Sementara itu, Pengawas SPBU 14212296, Tumel, menegaskan bahwa pihaknya terus melayani warga selama stok BBM tersedia.
“SPBU ini beroperasi selagi BBM ada. Kendaraan mobil memakai barcode dengan nominal terbatas, sepeda motor juga terbatas. Warga yang menggunakan botol minuman mineral dibanderol Rp10–15 ribu sesuai kebutuhan dan antrean,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa SPBU menerapkan kebijakan tertentu selama kelangkaan berlangsung.
“Pembeli yang menggunakan jeriken dihentikan sementara, kecuali yang benar-benar kehabisan minyak dan menggunakan botol minuman mineral. Ini demi menjaga stabilitas ketersediaan stok bagi kendaraan,” imbuhnya.
Kelangkaan pasokan BBM di beberapa wilayah, khususnya pedesaan, menjadi salah satu faktor utama antrean panjang ini. Pemerintah diharapkan segera melakukan langkah stabilisasi pasokan agar situasi kembali normal dan tidak menimbulkan antrean serupa ke depannya.(Jumaidi)




