CHIBA, GEMADIKA.com – Kisah Punch, bayi monyet yang sempat viral karena memeluk boneka orang utan sebagai “pelarian”, kini memasuki babak baru. Seiring pertumbuhannya, Punch mulai menunjukkan tanda-tanda kemandirian dan perlahan berbaur dengan kawanan monyet lainnya.

Penghuni Kebun Binatang Ichikawa ini sebelumnya menarik perhatian publik karena ditinggalkan induknya sejak lahir. Untuk membantunya bertahan dan beradaptasi, penjaga kebun binatang memberikan boneka orang utan sebagai media latihan berpegangan—kemampuan penting bagi bayi kera.

Namun kini, Punch yang semakin besar disebut tidak lagi bergantung sepenuhnya pada boneka tersebut. Ia mulai terlihat aktif berinteraksi dengan monyet lain, seperti memanjat punggung, duduk bersama kelompok, hingga mendapatkan perawatan dari kera dewasa.

“Senang melihatnya tumbuh, dan saya merasa lega,” kata Sanae Izumi, seorang penggemar Punch berusia 61 tahun dari Osaka, dikutip dari AP, Jumat (6/3/2026). “Dia menggemaskan!”

Salah satu penjaga kebun binatang, Kosuke Kano, menegaskan bahwa proses adaptasi Punch menjadi prioritas utama.
“Membantu Punch mempelajari aturan masyarakat monyet dan diterima sebagai anggota adalah tugas terpenting kami,” ujarnya.

Baca juga :  Pedas Menggoda! Resep Nakji Bokkeum Khas Korea Selatan yang Viral dan Bikin Nagih

Direktur kebun binatang, Shigekazu Mizushina, menyebut berkurangnya ketergantungan Punch pada boneka justru menjadi perkembangan positif.
“Ketika dia sudah tidak lagi menggunakan mainan boneka itu, hal itu akan mendorong kemandiriannya, dan itulah yang kami harapkan,” katanya.

Meski demikian, Punch diketahui masih tidur bersama boneka tersebut setiap malam. Para penjaga berharap tahap selanjutnya adalah melihat Punch sepenuhnya beradaptasi dengan kawanan, termasuk tidur bersama monyet lain.

Viral Hingga Picu Lonjakan Penjualan Boneka

Popularitas Punch tidak hanya berdampak pada kebun binatang, tetapi juga memicu fenomena global. Boneka orang utan yang ia peluk, yakni Djungelskog produksi IKEA, mendadak diburu masyarakat.

Perusahaan induk IKEA, Ingka Group, menyebut permintaan terhadap produk tersebut melonjak tajam.
“Akibatnya, produk tersebut saat ini kehabisan stok di beberapa pasar, termasuk Jepang dan Amerika Serikat,” ungkap pihak perusahaan, dikutip AFP.

Fenomena ini juga dilaporkan oleh USA Today, yang menyebut harga boneka tersebut melonjak drastis di pasar sekunder seperti eBay. Harga yang semula sekitar 19,99 dolar AS (sekitar Rp 335 ribu) kini bisa mencapai hingga 384 dolar AS.

Baca juga :  Pedas Gurih dan Menggoda! Resep Ayam Tuturuga Khas Manado, Sajian Santan yang Bikin Nagih

Lonjakan serupa juga terjadi di Australia. Berdasarkan laporan The Guardian, penjualan Djungelskog meningkat hingga 650 persen dalam periode Januari hingga Februari 2026.

Kritik dari Aktivis Hak Hewan

Di balik popularitas Punch, muncul pula sorotan dari kelompok pemerhati hewan. People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) mengkritik praktik kebun binatang yang dinilai tidak memberikan lingkungan alami bagi hewan.

“Kebun binatang bukanlah suaka—itu adalah tempat di mana hewan dikurung, dirampas otonominya, dan ditolak lingkungan kompleks dan kehidupan sosial yang akan mereka miliki di alam liar,” kata Jason Baker dalam pernyataannya.

Lonjakan Pengunjung dan Pembatasan Akses

Popularitas Punch juga berdampak langsung pada lonjakan jumlah pengunjung ke Kebun Binatang Ichikawa. Untuk menjaga kenyamanan dan mengurangi stres pada lebih dari 50 monyet yang ada, pihak pengelola menerapkan aturan ketat.

Pengunjung kini diminta menjaga ketenangan dan dibatasi hanya sekitar 10 menit untuk melihat Punch secara langsung.

Dilansir dari:Liputan6

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami