MANADO, GEMADIKA.com – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah Sulawesi Utara dan Maluku Utara pada Kamis (2/4/2026) pagi. Guncangan kuat dirasakan mulai dari Bitung dan Manado hingga Ternate.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), gempa terjadi pukul 05.48 WIB dengan pusat di laut tenggara Bitung pada koordinat 1,25 LU dan 126,25 BT, serta kedalaman 62 kilometer.
Dampak awal mencatat satu orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka di Manado akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Informasi ini dibenarkan oleh tim SAR setempat.
Kepala Basarnas Sulawesi Utara, George Mercy Randang, menyampaikan bahwa korban telah berhasil dievakuasi.
“Tadi pagi sudah dievakuasi. Dan ada satu orang cedera kaki, namun sudah dievakuasi juga,” ujarnya.
Warga Rasakan Guncangan Kuat dan Kepanikan
Salah satu warga Manado, Isvara Safitri, mengaku merasakan getaran yang sangat kuat hingga membuatnya panik.
“Jalanan aspal sampai bergoyang, kencang banget,” katanya.
“Kepala saya sampai pusing.”
Ia menyebut perabot rumah seperti lemari ikut bergoyang selama beberapa detik, disertai suara gemuruh yang belum diketahui sumbernya. Warga pun berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.
Di sekitar tempat tinggalnya, suasana sempat dipenuhi kepanikan, meski tidak ditemukan kerusakan bangunan di lingkungan tersebut.
Evakuasi Darurat di Rumah Sakit
Dampak gempa juga dirasakan di fasilitas kesehatan. Puluhan pasien di RS Siloam Manado dievakuasi ke area terbuka seperti lobi dan halaman rumah sakit, bahkan sebagian dirawat di dalam kendaraan.
Salah satu pasien, Admini (69), menceritakan momen kepanikan saat gempa terjadi.
“Kami sementara duduk, minum teh. Mereka kira itu cuma anak goyang-goyang. Tidak tahu kalau itu gempa.”
“Anak sudah berteriak, ‘Mbak, Mbak, mari turun, cepat turun.’ Jadi langsung turun cari tangga darurat.”
Ia menggambarkan proses evakuasi berlangsung sulit karena banyak pasien panik dan berdesakan mencari jalan keluar.
“Turun lho, semua orang baku susung di situ. Ada yang di kursi roda, ada yang saling bantu. Baku dukung, baku kolok. Semua panik, terutama di lantai lima.”
Warga Bitung dan Ternate Ikut Terdampak
Di Bitung, warga dilaporkan panik dan berhamburan keluar rumah saat gempa terjadi. Salah satu warga, Yayuk Oktiani, mengatakan guncangan terasa semakin kuat saat dirinya berada di pasar.
“Orang-orang di pasar langsung lari keluar, beberapa toko mati lampu. Kami pegangan tangan, banyak yang ketakutan.”
Warga pesisir bahkan sempat mengungsi ke dataran tinggi setelah adanya peringatan siaga dari BMKG.
Sementara itu di Ternate, Basarnas melaporkan sejumlah bangunan mengalami kerusakan, baik ringan maupun berat, meski belum ada laporan korban jiwa.
Gempa Susulan dan Tsunami Kecil
BNPB mencatat dua gempa susulan dengan kekuatan magnitudo 5,5 dan 5,2 yang terjadi tidak lama setelah gempa utama. Meski tidak berpotensi tsunami besar, sistem peringatan dini mendeteksi gelombang laut setinggi 0,3 meter di Halmahera Barat dan 0,2 meter di Bitung.
Kepala Pusat Data BNPB, Abdul Muhari, mengimbau masyarakat tetap waspada.
“Meskipun relatif kecil, kondisi ini tetap memerlukan kewaspadaan karena potensi gelombang susulan masih dapat terjadi.”
BNPB juga meminta masyarakat pesisir untuk sementara menjauhi pantai dan menunggu informasi resmi sebelum kembali ke area rawan.
Imbauan dan Penanganan Lanjutan
Hingga kini, pendataan kerusakan masih terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan instansi terkait. Masyarakat diimbau tetap tenang, mengikuti arahan petugas, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa wilayah Indonesia, khususnya kawasan timur, merupakan daerah rawan gempa sehingga kesiapsiagaan menjadi hal yang sangat penting.
Dilansir dari:BBCNEWS INDONESIA.




