MAKASSAR, GEMADIKA.com – Perayaan Jumat Agung menjadi momen paling hening dan penuh makna dalam iman Kristiani. Pada hari suci ini, umat mengenangkan sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib, sebuah peristiwa agung yang mencerminkan kasih Allah tanpa batas bagi umat manusia.
Melalui rangkaian liturgi, mulai dari bacaan Kitab Suci, mazmur tanggapan, hingga kisah sengsara (Passio), umat diajak untuk merenungkan lebih dalam arti pengorbanan Kristus. Setiap bagian ibadat tidak hanya menjadi pengingat sejarah, tetapi juga undangan untuk menghidupi nilai-nilai iman dalam kehidupan sehari-hari.
Perayaan ini menekankan bahwa di balik penderitaan dan keheningan Jumat Agung, tersimpan harapan besar akan kasih yang menebus serta memperbarui iman setiap orang percaya.
Bacaan Liturgi Jumat Agung 3 April 2026
Berikut pokok-pokok bacaan yang menjadi bagian penting dalam liturgi:
Bacaan I: Yesaya 52:13–53:12
Menggambarkan sosok hamba Tuhan yang menderita demi menanggung dosa umat manusia.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 31
Mengungkapkan doa penyerahan diri penuh kepada Tuhan di tengah penderitaan.
Bacaan II: Ibrani 4:14–16; 5:7–9
Menegaskan ketaatan Yesus sebagai sumber keselamatan abadi bagi umat manusia.
Injil (Passio): Yohanes 18:1–19:42
Mengisahkan secara lengkap perjalanan sengsara hingga wafat Yesus Kristus di kayu salib.
Makna Jumat Agung: Refleksi di Tengah Kehidupan
Dalam renungan Jumat Agung tahun ini, umat diajak untuk merenungkan satu pertanyaan penting: apakah dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering memilih kebenaran atau justru menghindarinya?
Tokoh Pilatus dalam kisah sengsara menjadi gambaran nyata tentang dilema manusia. Ia mengetahui bahwa Yesus tidak bersalah, namun tetap menyerahkan-Nya demi menjaga kepentingan dan posisinya.
Fenomena serupa dinilai masih terjadi hingga saat ini, di mana kebenaran kerap dikompromikan demi kenyamanan, jabatan, atau kepentingan pribadi.
Renungan ini mengajak umat untuk bercermin:
Saat mengetahui yang benar, apakah berani bersuara?
Saat melihat ketidakadilan, apakah memilih diam?
Saat dihadapkan pada risiko, apakah tetap berpihak pada kebenaran?
Jumat Agung menjadi momen untuk berhenti sejenak, masuk dalam keheningan, dan menguji keteguhan iman.
Pesan Reflektif: Jangan Hanya Melihat Salib
Renungan menekankan bahwa Jumat Agung bukan sekadar mengenang penderitaan Kristus, tetapi juga panggilan untuk bertindak dalam kehidupan nyata.
“Ketika yang benar sendirian dan kebenaran seolah ‘disalibkan’, di pihak mana kita berdiri?”
Pertanyaan ini menjadi inti refleksi menjelang perayaan Paskah, mengajak umat untuk tetap setia meski dalam situasi sulit dan tanpa dukungan.
Doa Penutup
“Tuhan Yesus, di Jumat Agung ini aku berdiri di hadapan salib-Mu. Aku tahu, sering kali aku memilih aman daripada benar. Aku diam, ketika seharusnya bersuara. Aku menjaga diri, ketika seharusnya berdiri. Ampuni aku, jika ada ‘Pilatus kecil’ dalam hatiku.
Di saat semuanya terasa gelap dan kebenaran tampak kalah, ajar aku tetap setia. Teguhkan aku untuk berdiri di pihak-Mu, meski tanpa tepuk tangan, meski harus sendiri. Sebelum fajar Paskah tiba, jagalah imanku agar tidak ikut dikuburkan. Jika suatu hari kebenaran kembali disalibkan, jangan biarkan aku berdiri jauh dari-Mu. Amin.”
Dilansir dari Detiksulsel




