REMBANG, GEMADIKA.com – Di tengah riuhnya tradisi sedekah bumi yang kembali menggeliat di Kabupaten Rembang, satu sajian sederhana justru mencuri perhatian. Bukan sekadar kudapan, dumbek hadir sebagai simbol kebersamaan yang tak tergantikan dalam setiap perayaan di bulan Apit.

‎‎Memasuki bulan Selo atau yang akrab disebut bulan Apit dalam penanggalan Jawa, suasana kemeriahan mulai terasa di berbagai pelosok desa di Kabupaten Rembang. Bulan ini menjadi momentum sakral bagi masyarakat untuk menggelar ritual sedekah bumi sebagai wujud rasa syukur atas limpahan hasil pertanian serta keselamatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

‎‎Dalam setiap perayaan tersebut, terdapat satu sajian khas yang hampir tidak pernah absen, yakni dumbek. Panganan tradisional berbentuk kerucut dengan lilitan janur ini selalu tersaji di meja tamu, menemani hangatnya interaksi antarwarga.

Baca juga :  Semangat Swadaya Warga Dusun Kuwojo Bangun Jalan Rabat Beton, Libatkan 13 RT

‎‎Bagi masyarakat Rembang, dumbek bukan sekadar makanan ringan berbahan tepung beras, santan, dan gula merah. Lebih dari itu, dumbek menjadi simbol perekat silaturahmi. Teksturnya yang kenyal serta aroma khas dari janur membuatnya digemari, baik oleh warga lokal maupun tamu dari luar daerah.

Ribuan dumbek tersusun rapi usai proses produksi di Dusun Ngumpleng, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori, Kabupaten Rembang, siap didistribusikan untuk kebutuhan tradisi sedekah bumi di bulan Apit, Minggu (3/5/2026).

‎‎”Belum lengkap rasanya kalau bertamu saat sedekah bumi tapi tidak ada dumbek di meja,” ujar Rozak, salah satu warga yang ditemui di sela-sela perayaan.

‎‎Tingginya antusiasme masyarakat turut membawa dampak positif bagi para pelaku usaha rumahan. Salah satunya Desti, pengrajin dumbek asal Dusun Ngumpleng, Desa Gunungsari, Kecamatan Kaliori.

‎‎Pada Minggu (3/5/2026), dapur produksinya tampak lebih sibuk dibanding hari biasa. Ia menyebut permintaan meningkat signifikan seiring banyaknya desa yang menggelar sedekah bumi secara bersamaan.

Baca juga :  Polisi Tangkap Terduga Pelaku Terkait Penemuan Mayat Remaja di Sedan

‎‎”Alhamdulillah, hari ini pesanan dumbek di tempat kami mencapai 5.000 biji. Ini luar biasa karena bertepatan dengan puncak acara di berbagai desa,” ungkap Desti.

‎‎Meski harus memenuhi pesanan dalam jumlah besar, Desti tetap menjaga kualitas produksi. Menurutnya, konsistensi rasa menjadi kunci utama mempertahankan kepercayaan pelanggan.

‎‎”Karena dumbek adalah wajah kuliner Rembang,” tambahnya.

‎‎Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi sedekah bumi tidak hanya berperan dalam melestarikan budaya, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya di sektor kuliner tradisional. Ribuan dumbek produksi warga Gunungsari kini telah didistribusikan ke berbagai desa, siap menyambut para tamu dalam suasana penuh kehangatan dan rasa syukur.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami