JAKARTA, GEMADIKA.com — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai mengubah cara masyarakat dalam merespons kondisi kesehatan. Banyak orang memilih mencari jawaban atas keluhan fisik melalui mesin pencari atau aplikasi berbasis AI dibandingkan langsung berkonsultasi ke tenaga medis.
Fenomena ini mendapat perhatian dari Ketua Peneliti dan Pendiri Health Collaborative Center (HCC), Ray Wagiu Basrowi, yang mengingatkan agar penggunaan teknologi tersebut dilakukan secara bijak.
Menurutnya, masyarakat perlu berhati-hati saat menggunakan AI seperti ChatGPT atau platform serupa untuk mencari informasi kesehatan.
“Hati-hati dengan bertanya kepada ChatGPT atau mesin serupa. Jangan langsung bertanya ‘saya sakit apa’, tetapi berikan data gejala secara lengkap,” ujarnya dalam diskusi HCC di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Ia menegaskan bahwa platform digital berbasis algoritma tidak dirancang untuk menegakkan diagnosis medis layaknya dokter, melainkan hanya sebagai alat skrining awal untuk memetakan potensi gangguan kesehatan.
“Pastikan semua rekomendasi dari mesin pencari ini bukan diagnostik, tapi skrining. Artinya hanya menunjukkan risiko, bukan memastikan penyakit,” jelasnya.
Ray menambahkan, jika hasil pencarian menunjukkan kemungkinan penyakit tertentu, hal tersebut seharusnya dipahami sebagai sinyal peringatan untuk segera memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.
Ia juga menekankan pentingnya cara menyusun pertanyaan atau prompt saat menggunakan AI. Ketepatan jawaban sangat bergantung pada informasi yang diberikan pengguna.
Berdasarkan studi HCC, masih banyak masyarakat yang keliru dalam menggunakan mesin pencari, termasuk dari kalangan berpendidikan tinggi. Kebiasaan yang umum terjadi adalah langsung menanyakan diagnosis tanpa menjelaskan gejala secara rinci.
Padahal, pengguna disarankan untuk menyampaikan informasi secara detail, seperti durasi keluhan, tingkat keparahan, serta lokasi bagian tubuh yang mengalami gangguan.
“Jadikan AI sebagai alat bantu skrining, bukan untuk diagnosis. Tetap harus ke tenaga kesehatan untuk memastikan kondisi sebenarnya,” tegasnya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan literasi digital yang baik, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi yang berisiko terhadap kesehatan.




