JAKARTA,GEMADIKA.com – Produk probiotik dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan pencernaan. Namun, keberadaan gula di dalamnya kerap menimbulkan pertanyaan: apakah seluruh gula tersebut benar-benar dibutuhkan dalam proses fermentasi, atau hanya sekadar penambah rasa?

Guru Besar Mikrobiologi Universitas Indonesia, Wellyzar Sjamsuridzal, menjelaskan bahwa gula memang memiliki peran penting dalam proses produksi probiotik. Ia menyebutkan bahwa konsentrasi gula sekitar 4–6 persen merupakan kadar optimal dalam berbagai penelitian untuk menjaga keseimbangan proses fermentasi.

Menurutnya, pada kadar tersebut, gula berfungsi untuk menjaga viabilitas bakteri, yaitu kemampuan mikroorganisme untuk tetap hidup sejak proses produksi hingga saat dikonsumsi. Hal ini penting karena probiotik hanya dapat memberikan manfaat jika dikonsumsi dalam kondisi hidup dan dalam jumlah yang cukup, sesuai definisi dari Food and Agriculture Organization dan World Health Organization.

Baca juga :  Sering Scroll HP Saat di Toilet? Dokter Harvard Ungkap Risiko Ambeien Meningkat Hingga 46 Persen

Prof Wellyzar juga mengungkapkan bahwa gula dalam produk probiotik memiliki dua fungsi utama. Selain sebagai sumber energi bagi bakteri selama fermentasi, sebagian gula juga ditambahkan untuk memperbaiki cita rasa.

“Ketika probiotik dihantarkan ke dalam pencernaan dalam bentuk makanan, maka rasa produk tersebut harus dapat diterima oleh yang mengonsumsinya,” terang Prof Wellyzar.

Meski demikian, kandungan gula dalam produk probiotik tetap perlu diperhatikan. Konsumsi gula berlebih dapat menimbulkan risiko kesehatan, terutama jika dikonsumsi secara terus-menerus.

Konsultan endokrin, metabolik, dan diabetes, Dicky Levenus Tahapary, mengingatkan bahwa minuman probiotik dengan kadar gula tinggi tetap berpotensi meningkatkan risiko penyakit metabolik.

Baca juga :  Lolos Seleksi Manajer Kopdes Merah Putih? Peserta Wajib Ikuti Pelatihan Komponen Cadangan

“Meningkatkan risiko sih. Kita ada penelitiannya, konsumsi minuman-minuman manis itu meningkatkan risiko diabetes,” kata dr Dicky.

Ia menegaskan bahwa probiotik sebaiknya tidak dijadikan solusi instan untuk menjaga kesehatan. Tanpa diimbangi pola hidup sehat, manfaat probiotik tidak akan maksimal.

“Sebenarnya, menjaga pola hidup yang sehat jauh lebih penting dibandingkan minum probiotik,” kata dr Dicky.

Dengan demikian, masyarakat diimbau untuk lebih cermat dalam memilih produk probiotik, terutama dengan memperhatikan kandungan gula di dalamnya. Konsumsi secara bijak dan seimbang tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan tubuh.

Dilansir dari Detikhelt.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami