GEMADIKA.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap dong Vietnam (VND) mengalami penguatan tipis pada perdagangan Sabtu, 6 Juni 2026. Kenaikan ini terjadi di tengah tekanan inflasi global dan ketidakpastian geopolitik yang masih membayangi pasar keuangan internasional.

Berdasarkan data Bank Negara Vietnam, kurs referensi USD tercatat sebesar 25.147 VND/USD atau naik 2 VND dibandingkan sesi sebelumnya. Sementara itu, di Vietcombank, nilai tukar USD berada pada kisaran 26.094 hingga 26.404 VND/USD, yang juga mengalami kenaikan 2 VND pada harga beli dan jual.

Di pasar perbankan, variasi kurs terlihat cukup beragam. Bank NCB mencatat kurs beli tunai terendah di level 25.790 VND/USD, sedangkan VietinBank menawarkan kurs beli transfer terendah sebesar 25.973 VND/USD. Di sisi lain, HSBC menjadi bank dengan kurs beli tunai tertinggi di angka 26.173 VND/USD, sementara VIB mencatat kurs beli transfer tertinggi sebesar 26.200 VND/USD.

Baca juga :  Ledakan Dahsyat Guncang Myanmar, Sedikitnya 55 Orang Tewas dan Puluhan Luka-Luka

Untuk kurs jual, NCB menawarkan harga terendah di 26.393 VND/USD baik untuk transaksi tunai maupun transfer. Sementara itu, VPBank dan VRB menetapkan kurs jual tunai tertinggi di level 26.404 VND/USD, diikuti ABBank dan ACB untuk transaksi transfer pada angka yang sama.

Penguatan dolar AS dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik serta lonjakan harga energi global. Indeks dolar AS (DXY) tercatat naik sekitar 2 persen dibandingkan posisi sebelum konflik, didorong oleh aksi short covering di pasar.

Selain itu, tekanan inflasi di negara maju turut memperkuat posisi dolar. Inflasi di Amerika Serikat dan kawasan Zona Euro masing-masing mencapai 3,8 persen dan 3,2 persen, masih berada di atas target bank sentral sebesar 2 persen.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter. Pelaku pasar kini memperkirakan bank sentral AS, Federal Reserve, akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan berpotensi kembali menaikkan suku bunga jika tekanan inflasi berlanjut.

Baca juga :  Program MBG Berpeluang Hadir di Jeddah, Kepala BGN Tunggu Persetujuan Presiden Prabowo

Meski demikian, prospek jangka menengah dolar AS diperkirakan akan melemah secara bertahap. Survei Reuters menunjukkan mayoritas analis memperkirakan euro akan menguat hingga mencapai 1,20 dolar AS dalam satu tahun ke depan.

Direktur Strategi Valuta Asing Societe Generale, Kit Juckes, menilai pelemahan dolar ke depan didukung oleh membaiknya sentimen investor global serta meredanya ketegangan geopolitik.

Secara keseluruhan, nilai tukar USD diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat, mengikuti dinamika global dan arah kebijakan ekonomi negara-negara utama.(red)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami