JAKARTA, GEMADIKA.COM – Persaingan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) antara Amerika Serikat dan China selama ini sering dipandang sebagai perlombaan menciptakan teknologi paling canggih. Namun, di balik persaingan tersebut, kedua negara ternyata memiliki visi dan pendekatan yang sangat berbeda dalam mengembangkan AI.
Jika Amerika Serikat berfokus pada penciptaan model AI yang semakin cerdas dan mendekati kemampuan berpikir manusia, China justru menempatkan AI sebagai bagian dari pembangunan infrastruktur nasional dan tata kelola pemerintahan modern.
Di Amerika Serikat, pengembangan AI banyak dipimpin oleh perusahaan-perusahaan teknologi swasta yang berlomba menciptakan model AI generatif dan Artificial General Intelligence (AGI). Pemerintah cenderung memberikan ruang bagi sektor swasta untuk memimpin inovasi dengan asumsi bahwa dampak ekonomi dan sosialnya akan mengikuti secara alami.
Sebaliknya, China memandang AI bukan sekadar teknologi canggih, melainkan alat strategis untuk memperkuat berbagai sektor kehidupan nasional. Fokus utamanya adalah bagaimana kecerdasan buatan dapat diintegrasikan ke dalam sistem logistik, layanan kesehatan, perbankan, tata kota, hingga pelayanan publik.
Membangun Fondasi Sebelum Mengembangkan AI
Pemerintah China diketahui menggelontorkan investasi besar untuk membangun pusat data, jaringan internet berkecepatan tinggi, serta infrastruktur energi yang mendukung perkembangan teknologi AI.
Pendekatan ini didasarkan pada keyakinan bahwa AI tidak akan memberikan dampak maksimal tanpa fondasi infrastruktur yang kuat. Setelah infrastruktur tersedia, penerapan AI di berbagai sektor dianggap akan lebih mudah dan efisien.
Dipengaruhi Filosofi Konfusianisme dan Legalisme
Pendekatan China terhadap AI juga tidak lepas dari pengaruh filosofi tradisional yang telah lama membentuk sistem sosial dan pemerintahan mereka.
Ajaran Konfusianisme menekankan pentingnya harmoni sosial, keteraturan, dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat. Dalam konteks AI, teknologi dianggap berhasil apabila mampu membantu menjaga stabilitas sosial dan meningkatkan efektivitas pelayanan publik.
Sementara itu, Legalisme menekankan pentingnya aturan yang kuat dan pengawasan yang efektif. Perpaduan kedua filosofi tersebut mendorong pemanfaatan AI untuk mendukung pengambilan keputusan, pengawasan, serta pengelolaan data secara terintegrasi.
Menuju Konsep “Negara Prediktif”
Perkembangan AI di China juga melahirkan konsep yang dikenal sebagai Predictive State atau negara prediktif. Dalam konsep ini, pemerintah memanfaatkan data dan kecerdasan buatan untuk memprediksi potensi masalah sebelum benar-benar terjadi.
Berbagai data yang berasal dari sistem digital, transaksi ekonomi, hingga sensor perkotaan dapat dianalisis untuk membantu pemerintah mengambil langkah antisipatif terhadap kemacetan, gangguan ekonomi, maupun potensi penyebaran penyakit.
Pendekatan tersebut berbeda dengan sistem pemerintahan konvensional yang umumnya bersifat reaktif setelah masalah muncul.
AI Tidak Menggantikan Manusia, Tetapi Mengubah Peran
Di tengah kekhawatiran global mengenai ancaman AI terhadap lapangan pekerjaan, China cenderung mengarahkan teknologi ini untuk mengubah fungsi pekerjaan manusia, bukan menggantikannya secara langsung.
Di sektor industri, misalnya, pekerja tidak lagi hanya menjalankan tugas operasional, tetapi beralih menjadi pengawas sistem berbasis AI. Sementara di sektor kesehatan, AI dimanfaatkan untuk membantu proses analisis dan prioritas pelayanan pasien, sedangkan keputusan akhir tetap berada di tangan tenaga medis.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan AI tidak selalu berorientasi pada penggantian tenaga kerja manusia, melainkan pada peningkatan efisiensi dan produktivitas melalui kolaborasi antara manusia dan teknologi.
Persaingan yang Lebih dari Sekadar Teknologi
Perbedaan strategi antara Amerika Serikat dan China menunjukkan bahwa persaingan AI saat ini tidak hanya berkaitan dengan siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi juga tentang bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk membentuk masa depan masyarakat.
Jika Amerika Serikat fokus pada inovasi dan kebebasan pengembangan teknologi, China memilih menjadikan AI sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional yang terintegrasi dengan sistem pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat.
Dilansir dari Kompascom.


