JAKARTA, GEMADIKA.com – Terapi suntik penurun berat badan atau yang dikenal sebagai “diet suntik” semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Kemajuan ilmu kedokteran menghadirkan berbagai pilihan terapi obesitas yang bekerja dengan mekanisme berbeda untuk membantu mengontrol rasa lapar, meningkatkan rasa kenyang, serta mendukung penurunan berat badan.

Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Yaze, SpGK, menjelaskan bahwa perkembangan terapi obesitas saat ini menunjukkan pendekatan yang semakin ilmiah dan komprehensif. Penanganan obesitas tidak lagi hanya berfokus pada pembatasan makan, tetapi juga memperhatikan faktor hormonal dan metabolisme tubuh.

“Obesitas adalah penyakit yang kompleks. Karena itu, pendekatan terapinya juga semakin berkembang. Tujuannya bukan hanya membuat angka timbangan turun, tetapi membantu pasien mencapai kesehatan yang lebih baik secara keseluruhan,” ujar dr. Yaze.

Memahami Cara Kerja Diet Suntik

Perkembangan terapi obesitas modern banyak memanfaatkan kerja hormon inkretin, yaitu GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1) dan GIP (Glucose-Dependent Insulinotropic Polypeptide). Kedua hormon ini diproduksi tubuh setelah makan dan berperan dalam mengatur kadar gula darah, rasa lapar, serta penggunaan energi.

GLP-1 bekerja dengan meningkatkan pelepasan insulin, menurunkan produksi glukosa dari hati, memperlambat pengosongan lambung, dan meningkatkan rasa kenyang di otak. Sementara itu, GIP membantu meningkatkan pelepasan insulin dan berperan dalam pengaturan metabolisme lemak.

Baca juga :  China dan Amerika Serikat Tempuh Jalur Berbeda dalam Perlombaan AI, Bukan Sekadar Soal Teknologi

Beberapa terapi yang saat ini digunakan memanfaatkan mekanisme tersebut. Semaglutide bekerja dengan meniru hormon GLP-1, sedangkan tirzepatide merupakan terapi generasi terbaru yang mengaktifkan dua reseptor sekaligus, yaitu GLP-1 dan GIP.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pendekatan dual agonis seperti tirzepatide dapat memberikan penurunan berat badan yang lebih besar pada sebagian pasien dibandingkan terapi yang hanya menargetkan GLP-1.

Tidak Semua Orang Membutuhkan Diet Suntik

Meski dinilai efektif, dr. Yaze menegaskan bahwa terapi suntik bukanlah solusi yang dapat digunakan sembarangan. Penggunaan terapi ini harus berdasarkan evaluasi medis yang mempertimbangkan indeks massa tubuh (IMT), penyakit penyerta seperti diabetes tipe 2, kondisi kesehatan secara umum, hingga riwayat penggunaan obat-obatan.

“Yang sering menjadi kesalahpahaman adalah menganggap diet suntik sebagai jalan pintas untuk mendapatkan tubuh ideal. Padahal terapi ini diberikan pada pasien yang tepat berdasarkan pertimbangan medis,” ujar dr. Yaze.

Baca juga :  Salmon Bantu Jaga Jantung dan Turunkan Kolesterol, Ini Penjelasan Ahli

Menurutnya, banyak kasus kelebihan berat badan yang sebenarnya dapat diperbaiki melalui perubahan gaya hidup tanpa harus menggunakan terapi obat.

Pola Hidup Sehat Tetap Menjadi Kunci

Dokter menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan berat badan dalam jangka panjang tetap bergantung pada pola hidup sehat yang konsisten. Pengaturan pola makan, aktivitas fisik yang cukup, kualitas tidur yang baik, serta pengelolaan stres masih menjadi fondasi utama dalam menjaga berat badan ideal.

“Obat dapat menjadi alat bantu yang efektif pada pasien yang tepat, tetapi tidak dapat menggantikan fondasi utama kesehatan, yaitu pola makan yang baik, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang berkualitas, dan konsistensi dalam menjalankannya,” pungkasnya.

Dengan semakin banyaknya informasi mengenai diet suntik yang beredar di masyarakat, para ahli mengimbau agar masyarakat tidak mudah tergiur dengan klaim hasil instan. Konsultasi dengan tenaga medis tetap menjadi langkah terbaik sebelum memutuskan menjalani terapi penurunan berat badan.

Dilansir dari Detikcom.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami