JAKARTA, GEMADIKA.com – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai virus Nipah setelah muncul satu kasus terkonfirmasi di negara bagian Kerala, India, pada Juni 2026.

Meski kondisi di Distrik Kozhikode mulai membaik dan seluruh kontak berisiko telah menyelesaikan masa isolasi, WHO menegaskan pengawasan masih terus dilakukan karena sumber penularan belum diketahui secara pasti.

Kasus tersebut dialami seorang pria dewasa asal Kozhikode yang mulai mengalami gejala pada 30 Mei 2026 dan menjalani perawatan di rumah sakit sejak 10 Juni 2026. Pasien mengalami gangguan saraf (neurologis) dan hingga kini masih dirawat intensif dengan bantuan ventilator.

Setelah kasus dikonfirmasi, otoritas kesehatan India melakukan pelacakan terhadap 104 orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien, termasuk tenaga kesehatan. Hingga 18 Juni 2026, belum ditemukan adanya penularan lanjutan.

Hasil pemeriksaan terhadap 14 orang yang sempat mengalami gejala juga menunjukkan hasil negatif. Meski demikian, sejumlah tenaga kesehatan masih menjalani pemantauan sebagai langkah antisipasi.

Baca juga :  OJK Ingatkan Modus Penipuan Berkedok Nonton Drama China, Ratusan Pinjol Ilegal Berhasil Ditindak

Penularan Virus Nipah

WHO menjelaskan virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.

Reservoir alami virus ini adalah kelelawar pemakan buah (fruit bat) dari genus Pteropus. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi atau mengonsumsi makanan maupun minuman yang terkontaminasi air liur, urine, atau kotoran kelelawar.

Virus Nipah juga dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dengan penderita.

Masa inkubasi virus umumnya berlangsung antara 3 hingga 14 hari, namun pada beberapa kasus dapat mencapai 45 hari.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Gejala awal infeksi virus Nipah antara lain:

Demam
Sakit kepala
Nyeri otot
Muntah
Sakit tenggorokan

Apabila kondisi memburuk, penderita dapat mengalami:

Pusing
Mengantuk berlebihan
Penurunan kesadaran
Gangguan saraf
Radang otak (ensefalitis)
Gangguan pernapasan berat

Pada kasus berat, penderita bahkan dapat mengalami kejang hingga koma dalam waktu 24 sampai 48 jam.

Baca juga :  Tiga Saudari Berusia Lebih dari Seabad Pecahkan Rekor Dunia, Jadi Sorotan Penelitian Umur Panjang

Tingkat Kematian Tinggi

WHO menyebut virus Nipah memiliki tingkat kematian yang cukup tinggi. Berdasarkan sejumlah wabah yang pernah terjadi di Bangladesh, India, Malaysia, dan Singapura, angka kematian kasus berkisar antara 40 hingga 75 persen.

Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat khusus yang disetujui untuk mengobati infeksi virus Nipah. Penanganan medis masih difokuskan pada perawatan suportif untuk mengatasi gangguan saraf dan pernapasan.

Meski saat ini hanya ditemukan satu kasus tanpa penularan lanjutan, WHO menilai kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan, terutama karena Kerala merupakan wilayah yang beberapa kali mengalami wabah virus Nipah sejak 2018.

WHO juga menegaskan belum mengeluarkan rekomendasi pembatasan perjalanan maupun perdagangan terkait kasus tersebut. Namun masyarakat diimbau tetap menjaga kebersihan, menghindari kontak dengan hewan yang berpotensi membawa virus, serta tidak mengonsumsi makanan yang diduga telah terkontaminasi

Dilansir dari Kompascom.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami