JAKARTA, GEMADIKA.com – Sekitar satu dari empat balita di Indonesia masih mengalami anemia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi anemia pada balita mencapai 23,8 persen, sementara pada ibu hamil sebesar 27,7 persen.
Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat mengganggu pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga menurunkan daya tahan tubuh anak.
Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan jenis anemia yang paling sering terjadi. Kondisi ini muncul ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga produksi hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, menjadi tidak optimal.
Dokter spesialis gizi dr. Dian Novita Chandra, M.Gizi, mengatakan sebagian besar kasus anemia di Indonesia disebabkan oleh kurangnya asupan zat besi dari makanan sehari-hari.
“Untuk memenuhi asupan zat besi yang optimal, dapat dilakukan dengan memberikan asupan gizi seimbang yang banyak bersumber dari protein hewani yang kaya zat besi,” ujar dr. Dian dalam keterangannya, Jumat (17/7/2026).
Vitamin C Bantu Penyerapan Zat Besi
Selain mengonsumsi makanan yang kaya zat besi, dr. Dian menjelaskan bahwa vitamin C berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi di dalam tubuh.
Menurutnya, konsumsi zat besi yang disertai vitamin C dapat meningkatkan penyerapan hingga dua kali lipat dibandingkan tanpa vitamin C.
Ia juga menyarankan orang tua melengkapi kebutuhan nutrisi anak dengan pangan yang telah difortifikasi zat besi dan vitamin C. Meski demikian, pola makan bergizi seimbang tetap menjadi fondasi utama untuk mencegah anemia.
Kenali Tanda-Tanda Anemia pada Anak
Anemia pada anak sering kali tidak disadari karena gejalanya tampak ringan. Padahal, bila tidak ditangani, kondisi ini dapat berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga sistem kekebalan tubuh.
Beberapa tanda anemia yang perlu diwaspadai antara lain:
Anak tampak pucat, terutama pada wajah, bibir, atau kelopak mata.
Mudah lelah dan kurang bertenaga saat beraktivitas.
Nafsu makan menurun.
Sulit berkonsentrasi atau tampak kurang aktif.
Lebih mudah sakit akibat daya tahan tubuh yang menurun.
dr. Dian juga mengingatkan pentingnya melakukan skrining risiko kekurangan zat besi secara rutin, bahkan sejak masa kehamilan. Menurutnya, deteksi dini menjadi langkah penting agar anak yang berisiko dapat segera memperoleh penanganan.
Kolaborasi Cegah Anemia
Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, menilai tingginya angka anemia pada ibu hamil dan balita menunjukkan perlunya penguatan edukasi mengenai gizi seimbang.
“Hari ini kita telah mewujudkan kolaborasi pemerintah dengan multipihak dan sangat mengapresiasi upaya Danone dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. Kolaborasi ini penting mengingat peran strategis perempuan dan anak, di mana dua pertiga populasi di Indonesia adalah ibu dan anak,” ujarnya.
Menurut Arifatul, masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya pemenuhan nutrisi pada masa awal kehidupan. Oleh karena itu, upaya pencegahan anemia harus dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah, tenaga kesehatan, komunitas, hingga masyarakat.
Selain edukasi, skrining dini pada ibu hamil dan anak juga dinilai menjadi langkah penting untuk mendeteksi risiko anemia lebih awal sehingga penanganan dapat segera dilakukan sebelum berdampak terhadap tumbuh kembang anak.
Dilansir dari Detikhelt.


