JAKARTA, GEMADIKA.com – Tren olahraga Hyrox tengah menjadi perbincangan di media sosial. Kompetisi yang menggabungkan lari dan latihan functional fitness ini semakin populer di kalangan masyarakat, khususnya kaum urban. Namun, di balik popularitasnya, para dokter mengingatkan bahwa olahraga berintensitas tinggi tersebut tidak boleh diikuti tanpa persiapan fisik yang matang.
Hyrox merupakan kompetisi yang mengombinasikan delapan pos latihan fungsional dengan lari sejauh satu kilometer pada setiap putaran hingga total jarak tempuh sekitar delapan kilometer. Kombinasi latihan kekuatan dan ketahanan ini menuntut kondisi fisik yang prima.
Belakangan, berbagai unggahan peserta Hyrox di media sosial membuat banyak orang merasa FOMO (Fear of Missing Out) dan tertarik mencoba olahraga tersebut. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa mengikuti kompetisi hanya karena tren dapat meningkatkan risiko cedera maupun gangguan kesehatan serius.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO, Subsp.ALK(K), yang juga menjadi bagian dari tim medis pada ajang Hyrox Race Jakarta, mengungkapkan masih banyak peserta yang mengalami kondisi kelelahan berat hingga membutuhkan penanganan medis.
Salah satu kondisi yang ditemukan adalah heat stroke atau serangan panas, meskipun kompetisi berlangsung di dalam ruangan berpendingin.
“FOMO (Fear of Missing Out) boleh-boleh saja, tapi memang peserta itu benar-benar harus persiapan, harus melakukan pelatihan yang tepat sebelum mengikuti Hyrox,” ujar dr. Andi.
Menurutnya, risiko heat stroke tetap dapat terjadi karena tubuh menghasilkan panas yang sangat tinggi akibat kombinasi latihan kardio dan latihan beban dengan intensitas tinggi.
“Dari persepsi saya, meskipun itu kejadian di dalam ruangan, tetap saja risiko heat stroke itu ada. Kemarin ada beberapa kasus heat stroke atau heat-related illness, di mana suhunya sangat tinggi,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa kombinasi aktivitas lari dan latihan kekuatan menyebabkan produksi panas tubuh meningkat drastis. Karena itu, peserta harus memiliki kondisi kebugaran yang baik, rutin berlatih, serta menjaga hidrasi tubuh sebelum mengikuti kompetisi.
Senada dengan itu, Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga dr. Andhika Raspati, SpKO, juga mengingatkan adanya risiko gangguan jantung apabila seseorang memaksakan diri mengikuti Hyrox tanpa memiliki kesiapan fisik yang memadai.
“Harus diingat bahwa Hyrox itu olahraga yang mengombinasikan antara ketahanan kardio dengan ketahanan otot. Gerakannya nggak cuma lari, tapi juga latihan beban,” jelasnya.
Menurut dr. Andhika, risiko terbesar terjadi pada seseorang yang sebelumnya memiliki gaya hidup kurang aktif atau jarang berolahraga, namun langsung mengikuti kompetisi karena tertarik tren yang sedang viral.
“Awalnya duduk mager doang, nonton TV, kemudian lihat ‘Oh seru nih’, langsung kompetisi? Kayaknya enggak deh,” tegasnya.
Ia menambahkan, apabila kondisi jantung maupun kebugaran kardiorespirasi belum siap, memaksakan diri mengikuti Hyrox dapat memicu gangguan jantung hingga kolaps saat bertanding.
“Kalau kardionya nggak siap atau ternyata punya gangguan jantung yang tidak disadari, lalu dipaksa ikut Hyrox, jantung bisa kumat (kolaps) di lapangan,” ujarnya.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba Hyrox, para dokter menyarankan agar melakukan persiapan secara bertahap. Latihan sebaiknya dimulai dengan meningkatkan kapasitas kardio, memperkuat otot, menguasai teknik latihan beban yang benar, serta meningkatkan stabilitas sendi sebelum mengikuti kompetisi.
“Bukan nggak boleh nyobain, tapi jangan langsung mikirin kompetisinya mau jadi juara. Benerin kardio, rapihin dulu. Dari segi kekuatan, teknik angkatnya, hingga stabilitas sendi mesti di-boost dulu,” pungkas dr. Andhika.
Dengan persiapan yang baik, olahraga Hyrox dapat menjadi aktivitas yang bermanfaat bagi kebugaran. Namun, mengikuti kompetisi tanpa latihan yang cukup justru berpotensi meningkatkan risiko cedera, heat stroke, hingga gangguan jantung yang membahayakan keselamatan peserta.
Dilansir dari Detikhelt.


