GROBOGAN, GEMADIKA.com – Di tengah rimbunnya hutan petak 87 RPH Ngroto, warga Dusun Harjowinangun, Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, kembali menggelar tradisi tahunan Suronan pada Selasa Kliwon, 22 Juli 2025, bertepatan dengan bulan Muharam dalam penanggalan Hijriah.
Acara yang digelar di Petilasan Cinde Laras, atau yang juga dikenal dengan sebutan “Tapan”, ini berlangsung khidmat dan penuh makna spiritual. Tradisi Suronan merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus penghormatan kepada arwah para leluhur yang telah berjasa dalam kehidupan masyarakat desa.
Tradisi Spiritual dan Budaya Penuh Kearifan Lokal
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini dijalankan secara swadaya dan gotong royong oleh masyarakat. Dana dihimpun melalui iuran sukarela dari warga, lalu digunakan untuk tasyakuran dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat setempat.

“Kami meyakini bahwa dengan menjaga tradisi ini, kami ikut menjaga keselamatan, ketentraman, dan keberkahan bagi seluruh warga,” ujar suwadi kepala desa bandungharjo.
Legenda Cinde Laras: Jejak Sejarah yang Tetap Hidup
Petilasan Cinde Laras diyakini sebagai tempat bertapa atau bermeditasi para tokoh spiritual di masa lampau. Legenda yang berkembang menyebutkan bahwa tempat ini merupakan lokasi kelahiran tokoh Cinde Laras, anak dari Raja Panji Asmoro Bangun dari kerajaan Jenggolo, Kediri.
Dikisahkan, seorang selir kerajaan yang tengah mengandung dibuang ke dalam hutan akibat intrik politik di istana. Beberapa waktu kemudian, terdengar tangisan bayi yang kemudian ditemukan bersama seorang perempuan cantik diyakini sebagai Cinde Laras dan ibunya. Lokasi peristiwa inilah yang kini menjadi Petilasan Cinde Laras, tempat yang dihormati hingga kini.
Menyatukan Warga, Melestarikan Budaya

Bagi masyarakat Harjowinangun, tradisi Suronan ini bukan sekadar ritual, melainkan pengikat persaudaraan antarwarga. Suasana kebersamaan terlihat dari gotong royong, persiapan acara, hingga kebersamaan saat tasyakuran berlangsung.
“Tradisi seperti ini menjadi identitas dan jati diri masyarakat kami. Semoga tetap lestari dan diwariskan ke generasi berikutnya,” ujar Rusmin juru kunci.
Dengan semangat menjaga kearifan lokal, masyarakat Bandungharjo terus berupaya mempertahankan budaya luhur ini sebagai sumber nilai, sejarah, dan spiritualitas, sekaligus sebagai kekayaan budaya daerah Grobogan yang patut diapresiasi.
(Joko P)




