REMBANG, GEMADIKA.com – Di tengah sunyinya Dusun Kedungsapen, Desa Jatihadi, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, Sabtu (25 April 2026), tersimpan ketekunan seorang perajin yang setia menjaga marwah budaya Jawa melalui sentuhan tangan dan rasa.
Di sebuah sudut tenang dusun tersebut, deru halus amplas dan aroma kayu yang khas memenuhi udara. Di sanalah Mabrur, seorang perajin mranggi (pembuat sarung keris), mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan salah satu warisan budaya paling luhur di Jawa.
Bagi Mabrur, membuat warangka bukan sekadar memproduksi wadah senjata tajam. Baginya, warangka adalah “busana” yang memberikan martabat dan “nyawa” pada sebilah keris.
Dalam menjalankan usahanya, Mabrur memegang prinsip ketat terkait kualitas. Ia sengaja membatasi jumlah produksi demi menjaga detail yang sempurna pada setiap karyanya.
”Untuk pembuatan, kami sangat membatasi. Dalam satu bulan, saya hanya menyanggupi maksimal lima buah warangka saja,” ujar Mabrur saat ditemui di lokasi.
Pembatasan ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, setiap lekukan (luk) dan sudut warangka tidak boleh dibuat asal-asalan. Semua harus melalui proses rasa yang mendalam agar selaras dengan bilah keris yang akan menghuninya.
”Ini bukan sekadar kerja fisik, tapi memadukan rasa,” tambahnya.
Terkait harga yang kerap mencapai jutaan rupiah, Mabrur menyebut hal itu sejalan dengan filosofi Jawa, “Ana Rega, Ana Rupa” (ada harga, ada kualitas).
Ia menjelaskan, ada tiga faktor utama yang menentukan nilai sebuah warangka. Pertama, kelangkaan bahan baku seperti kayu Timoho yang kini semakin sulit didapatkan. Kedua, motif alami kayu atau pelet yang unik di setiap potongannya-semakin langka dan indah, semakin tinggi nilainya. Ketiga, tingkat ketelitian dalam proses pengerjaan yang membutuhkan keahlian tinggi dan tidak bisa dilakukan secara instan.
Mabrur mulai menekuni kerajinan ini secara serius sejak 2018. Baginya, menjadi mranggi adalah wujud kecintaan terhadap budaya bangsa.
Lebih dari itu, ia juga menemukan nilai filosofis dalam setiap karya. Salah satu bentuk warangka yang kerap ia buat menyerupai perahu, yang melambangkan perjalanan hidup manusia.
”Mengapa bentuknya seperti perahu? Karena manusia itu seperti mengarungi samudera kehidupan. Kita diajarkan untuk terus belajar dan tidak merasa paling tahu,” tuturnya.
Ia berharap, karya-karyanya dari Dusun Kedungsapen dapat terus menjadi bagian dalam menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.
Bagi kolektor dan pecinta keris, karya Mabrur bukan sekadar soal estetika, melainkan juga makna. Untuk mendapatkannya, diperlukan kesabaran, karena keindahan yang lahir dari rasa tidak bisa dipercepat oleh waktu.
Tag:






