JAKARTA, GEMADIKA.com — Tren gaya hidup “digital detox” mulai menjadi pilihan baru di kalangan anak muda Indonesia. Setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan media sosial, kini banyak generasi muda memilih mengurangi aktivitas online demi menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup.

Fenomena ini muncul seiring meningkatnya kesadaran tentang dampak negatif penggunaan media sosial secara berlebihan, mulai dari gangguan tidur, kecemasan, overthinking, hingga tekanan untuk selalu tampil sempurna di internet.

Banyak Gen Z dan milenial kini mulai membatasi waktu bermain media sosial, mematikan notifikasi, hingga sengaja mengambil jeda beberapa hari tanpa membuka aplikasi seperti Instagram, TikTok, atau X.

Tren digital detox semakin ramai dibahas setelah banyak pengguna mengaku merasa lebih tenang dan produktif saat jauh dari ponsel maupun media sosial.

Baca juga :  KUHP Baru Atur Pacaran Anak di Bawah Umur Bisa Berujung Pidana Jika Tanpa Restu Orang Tua

Sebagian anak muda memilih mengisi waktu luang dengan aktivitas offline seperti membaca buku, olahraga, berkebun, memasak, traveling, hingga sekadar menikmati waktu bersama keluarga tanpa gangguan gadget.

Psikolog menyebut paparan informasi yang terus-menerus di media sosial dapat memicu kelelahan mental karena otak dipaksa menerima terlalu banyak stimulus setiap hari.

Selain itu, budaya membandingkan hidup dengan orang lain di media sosial juga dinilai menjadi penyebab meningkatnya rasa insecure pada generasi muda.

“Media sosial membuat banyak orang merasa hidupnya tertinggal. Padahal apa yang terlihat di internet belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya,” ujar seorang psikolog digital.

Tidak sedikit pula anak muda yang mulai menghapus aplikasi media sosial tertentu karena merasa terlalu kecanduan scrolling tanpa tujuan.

Baca juga :  Bersejarah! Prabowo Hadir Langsung di Paripurna DPR Hari Ini — Presiden Pertama yang Pidato soal RAPBN 2027

Menariknya, tren ini juga memengaruhi pola liburan dan gaya hidup. Kini mulai banyak orang memilih staycation di alam terbuka, camping, wisata pegunungan, hingga retreat tanpa internet untuk mendapatkan ketenangan pikiran.

Beberapa kafe dan tempat wisata bahkan mulai menawarkan konsep “slow living” dan area bebas gadget untuk menarik pengunjung yang ingin sejenak lepas dari dunia digital.

Meski teknologi tetap menjadi bagian penting kehidupan modern, banyak anak muda kini mulai menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan online dan kehidupan nyata.

Fenomena digital detox menjadi bukti bahwa di tengah era serba cepat dan terkoneksi, ketenangan justru mulai dianggap sebagai bentuk kemewahan baru.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami