JAKARTA, GEMADIKA.com – Film fiksi ilmiah bertema eksplorasi luar angkasa dan perubahan iklim kini tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sains yang menarik dan mudah dipahami masyarakat luas.

Banyak penonton yang mulai bertanya-tanya tentang kemungkinan ilmiah dari film seperti Project Hail Mary. Rasa penasaran ini kemudian mendorong para ilmuwan untuk menjadikan film sebagai jembatan komunikasi antara dunia akademik dan publik.

Di berbagai negara, film science fiction telah menjadi sarana diskusi ilmiah yang efektif. Penonton dapat memahami konsep kompleks seperti astrofisika hingga perubahan iklim tanpa harus merasa sedang mengikuti pelajaran formal yang kaku.

Nobar Film Sekaligus Bedah Fakta Ilmiah

Melihat potensi tersebut, peneliti dari University of Graz, yaitu Hildrun Walter, Fritz Treiber, dan timnya, mengembangkan format inovatif bernama Science & Cinema.

Program ini menggabungkan pemutaran potongan adegan film populer dengan penjelasan langsung dari para ilmuwan. Dalam setiap sesi, penonton diajak menyaksikan cuplikan film seperti The Day After Tomorrow, Snowpiercer, hingga Mad Max: Fury Road untuk membahas isu perubahan iklim, zaman es, hingga krisis kekeringan.

Baca juga :  Mendagri Ajak Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Dorong Perputaran Ekonomi Lokal

Dalam acara tersebut, seorang ilmuwan berperan sebagai “detektif sains” yang membedah mana bagian yang sesuai fakta ilmiah dan mana yang merupakan imajinasi kreatif sutradara. Diskusi dipandu secara santai oleh moderator dan diakhiri dengan sesi tanya jawab terbuka.

Hasilnya, penonton tidak hanya terhibur, tetapi juga mendapatkan wawasan baru mengenai fenomena ilmiah yang terjadi di dunia nyata.

Menjangkau Masyarakat di Luar Dunia Akademik

Salah satu keunggulan utama dari konsep Science & Cinema adalah kemampuannya menjangkau audiens yang lebih luas, tidak terbatas pada kalangan akademisi.

Ketika acara digelar di bioskop umum dalam rangka festival seni, penonton yang hadir berasal dari berbagai latar belakang. Mereka tidak selalu memiliki ketertarikan khusus pada sains, namun tetap dapat memahami materi yang disampaikan.

“Di bioskop, kami bertemu dengan orang-orang yang tidak selalu termotivasi oleh isu perubahan iklim,” jelas Hildrun Walter, dikutip dari Phys.org.

Baca juga :  Benarkah Gula dalam Probiotik Dibutuhkan? Ahli Ungkap Fakta dan Risikonya bagi Kesehatan

Pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan minat masyarakat terhadap sains, sekaligus membuka ruang diskusi yang lebih inklusif.

Sentuhan Emosi Bikin Sains Lebih Dekat

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa unsur emosional memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi ilmiah.

Acara biasanya dimulai dengan adegan ringan dan menghibur seperti dari film Ice Age, kemudian berlanjut ke adegan yang lebih serius dan menyentuh, seperti film The March.

Pendekatan ini membuat penonton lebih mudah mengaitkan cerita dalam film dengan peristiwa nyata, seperti krisis iklim atau migrasi global. Hal tersebut memicu refleksi mendalam dan pertanyaan kritis dari penonton mengenai batas antara fiksi dan realitas.

Dengan cara ini, sains tidak lagi terasa jauh atau rumit, melainkan menjadi bagian yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.

Dilansir dari DetikEdu.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami