JAKARTA, GEMADIKA.com – Mata juling atau strabismus masih sering dianggap masyarakat hanya sebagai persoalan penampilan. Padahal, kondisi tersebut merupakan gangguan medis yang dapat memengaruhi fungsi penglihatan dan berisiko menimbulkan gangguan permanen apabila tidak ditangani sejak dini.
Dokter menyebut strabismus terjadi akibat posisi kedua mata yang tidak sejajar sehingga keduanya tidak dapat fokus pada objek yang sama secara bersamaan. Kondisi ini dapat dialami oleh anak-anak maupun orang dewasa.
Jika dibiarkan tanpa penanganan, mata juling dapat menyebabkan hilangnya kemampuan melihat secara tiga dimensi, kesulitan memperkirakan jarak, hingga memicu ambliopia atau mata malas.
Pada sebagian kasus, mata juling muncul secara terus-menerus. Namun, ada pula yang hanya tampak sesekali, misalnya ketika seseorang sedang lelah, mengantuk, melamun, atau dalam kondisi kurang sehat. Bahkan, beberapa jenis strabismus hanya dapat diketahui melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh oleh dokter spesialis mata.
Orang Tua Diminta Waspadai Sejak Bayi
Dokter mengimbau para orang tua untuk memperhatikan perkembangan mata anak sejak usia dini.
Pada bayi, posisi mata yang tampak belum sejajar masih dapat terjadi karena koordinasi saraf mata belum berkembang sempurna. Namun, apabila kondisi tersebut masih terlihat setelah bayi berusia enam bulan, orang tua disarankan segera membawa anak ke dokter spesialis mata.
Melalui pemeriksaan dini, dokter dapat mengetahui penyebab pasti strabismus, yang umumnya dipengaruhi oleh gangguan otot mata, kelainan saraf, faktor keturunan, maupun gangguan refraksi seperti rabun jauh (minus), rabun dekat (plus), atau silinder yang belum terkoreksi.
Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Group sekaligus dokter spesialis mata, dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, menegaskan bahwa masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap kondisi mata juling.
“Mata juling bukan sekadar persoalan estetika, melainkan kondisi medis yang perlu diperiksa. Semakin dini diketahui, semakin besar peluang anak mendapatkan tata laksana yang sesuai dan hasil yang lebih optimal,” ujarnya dalam keterangan pers, Kamis (25/6/2026).
Penanganan Disesuaikan dengan Kondisi Pasien
Penanganan strabismus dilakukan secara bertahap sesuai penyebab dan tingkat keparahan masing-masing pasien.
Tahap pertama adalah pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan penyebab utama gangguan. Setelah diagnosis ditegakkan, dokter dapat memberikan beberapa pilihan terapi, antara lain:
Koreksi menggunakan kacamata apabila disebabkan gangguan refraksi.
Terapi patching atau penutupan salah satu mata untuk melatih mata yang lebih lemah.
Vision therapy guna meningkatkan koordinasi otot dan saraf mata.
Operasi otot mata apabila diperlukan berdasarkan indikasi medis.
Dokter menekankan bahwa tidak semua pasien memerlukan tindakan operasi. Penanganan akan disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing individu.
Kesadaran Masyarakat Meningkat
Meningkatnya edukasi mengenai kesehatan mata mulai mendorong masyarakat untuk melakukan pemeriksaan lebih awal.
Data JEC Eye Hospitals & Clinics menunjukkan jumlah tindakan medis untuk kasus strabismus meningkat sekitar 29 persen sepanjang tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut dinilai menjadi indikator positif bahwa masyarakat mulai memahami pentingnya pemeriksaan mata sejak dini serta tidak lagi menganggap mata juling sebagai persoalan kosmetik semata.
Dokter berharap kesadaran masyarakat terus meningkat sehingga penderita strabismus dapat memperoleh diagnosis dan penanganan lebih cepat untuk mencegah gangguan penglihatan permanen.
Dilansir dari TEMPO.


