SUKA MAKMUE, GEMADIKA.com – Program Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) yang diinisiasi pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) bersama kementerian terkait menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Salah satunya datang dari mantan Pekerja Sosial Perlindungan Anak di Kabupaten Nagan Raya, Arif, yang menilai pelaksanaan program tersebut juga perlu mempertimbangkan kondisi psikologis anak-anak yatim.

Menjelang dimulainya tahun ajaran baru pada Senin, para siswa jenjang SD, SMP, hingga SMA kembali memasuki hari pertama sekolah. Dalam momentum tersebut, pemerintah mengimbau para ayah untuk mengantarkan anak ke sekolah sebagai bentuk penguatan peran ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak.

Menurut Arif, tujuan program tersebut dinilai positif karena mendorong keterlibatan ayah dalam kehidupan anak. Namun, ia berharap pelaksanaannya tetap memperhatikan perasaan anak-anak yang telah kehilangan sosok ayah.

Baca juga :  Bupati TRK Terima Tim Peneliti Tohoku University Jepang, Perkuat Riset Perkebunan Berkelanjutan di Nagan Raya

“Seharusnya pemerintah Aceh maupun pemerintah kabupaten/kota di Aceh tidak latah mengikuti imbauan pusat. Karena di Aceh kehadiran maupun kedekatan ayah dengan anak masih berada pada kondisi yang normatif,” ujarnya.

Arif menilai bahwa hingga saat ini belum terlihat persoalan menonjol terkait minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak di Aceh.

“Kalau kita lihat, Alhamdulillah di Aceh belum ada kasus yang menonjol mengenai krisis kasih sayang dari seorang ayah terhadap anak-anaknya, sehingga pengasuhan kolaboratif belum terlalu mendesak. Ayah tetap fokus bekerja mencari nafkah, namun pada malam hari atau hari libur masih dapat bercengkerama dengan anak,” katanya.

Ia menambahkan, apabila di kemudian hari muncul persoalan serius terkait peran ayah dalam pengasuhan anak, maka kebijakan tersebut dapat menjadi langkah yang relevan untuk terus didorong oleh pemerintah daerah.

Baca juga :  Bupati TRK Imbau Orang Tua Antar Anak pada Hari Pertama Sekolah, Perkuat Peran Keluarga dalam Pendidikan

Di sisi lain, Arif juga mengajak semua pihak untuk menumbuhkan empati terhadap anak-anak yatim yang tidak lagi memiliki sosok ayah.

“Apakah tidak ada rasa empati kita kepada anak yatim? Bagaimana perasaan mereka ketika melihat teman-temannya diantar ayah ke sekolah, sementara ayah mereka telah lebih dahulu kembali kepada Allah. Tentu mereka bisa merasa sedih, bahkan menangis dalam hati,” tuturnya.

Program Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah sendiri bertujuan meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan serta mempererat hubungan emosional antara orang tua dan anak. Namun demikian, pelaksanaannya juga memunculkan berbagai pandangan dari masyarakat mengenai pentingnya memperhatikan kondisi setiap keluarga, termasuk anak-anak yang telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya.

Penulis : Rahmat P Ritongga
Editor : Rini

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami