KEBUMEN, GEMADIKA.com – Kerajinan anyaman daun pandan di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, masih terus bertahan hingga kini. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi sumber penghasilan masyarakat, tetapi juga menjadi identitas budaya yang terus dijaga.
Salah satu perajin yang masih aktif adalah Waginem (65). Di teras rumahnya di Dukuh Stanakunci, ia setiap hari menganyam daun pandan yang telah dikeringkan menjadi berbagai produk, seperti tas, topi, dompet, tikar, hingga bahan anyaman setengah jadi.
Waginem mengaku telah belajar menganyam sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Keahlian tersebut diwariskan langsung oleh orang tuanya dan masih ia tekuni hingga sekarang.
“Kalau zaman dulu orang tua mengajari saya menganyam. Sampai sekarang masih saya kerjakan. Alhamdulillah, hasilnya bisa menambah penghasilan keluarga,” tutur Waginem.
Ia mengenang, hasil anyaman yang dijual kepada pengepul pernah menjadi penopang kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya.
Meski usianya sudah tidak muda lagi, Waginem masih mampu menghasilkan dua lembar complong atau anyaman setengah jadi berukuran 60 x 60 sentimeter setiap hari.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan berasal dari proses menganyam, melainkan kondisi cuaca. Saat musim hujan, daun pandan membutuhkan waktu lebih lama untuk kering sehingga produksi ikut terhambat.
Meski demikian, para perajin tetap bertahan karena menyadari bahwa anyaman pandan bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga warisan budaya yang harus dilestarikan.
Libatkan Sekitar 2.000 Perajin
Upaya menjaga tradisi ini juga dilakukan oleh Kelompok Tani Hutan Margo Rahayu yang menjadi penggerak utama industri anyaman pandan di Desa Grenggeng.
Ketua kelompok, Anung Pratama, mengatakan kelompoknya memiliki 63 anggota dan pengurus. Namun, jaringan mereka melibatkan sekitar 2.000 perajin dari lima desa di sekitar Grenggeng.
Sebagian besar perajin merupakan ibu rumah tangga yang menjadikan kegiatan menganyam sebagai pekerjaan sampingan sekaligus tambahan penghasilan keluarga.
“Kami memproduksi ratusan jenis kerajinan, mulai dari tas, dompet, berbagai jenis kotak, topi, sandal, tikar, hingga produk lainnya,” kata Anung.
Produk anyaman tersebut kini telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia. Selain kualitasnya yang baik, daya tarik produk juga terletak pada motif-motif khas seperti menyan kobar, kawung, kepang comot, gradasi, tamporan, hingga khentingan.
Jadi Wisata Edukasi
Selain memproduksi kerajinan, Kelompok Tani Hutan Margo Rahayu juga aktif mengenalkan tradisi menganyam kepada generasi muda melalui pelatihan, lomba, dan wisata edukasi.
Para pelajar diajak mempelajari seluruh proses pembuatan anyaman, mulai dari memanen daun pandan, mengeringkan, membelah, menganyam, hingga menghasilkan produk siap pakai.
“Sudah banyak orang datang ke sini untuk belajar menganyam. Jangan sampai justru kita yang memiliki warisan ini melupakannya,” ujar Anung.
Kerajinan anyaman pandan Grenggeng kini menjadi salah satu kekayaan budaya yang mendukung kawasan UNESCO Global Geopark Kebumen, sekaligus memperkuat identitas daerah yang kaya akan tradisi dan kreativitas masyarakat.
Dilansir dari Kompascom.


