TANJUNG BALAI, GEMADIKA.com – Kampus bukan hanya tempat menimba ilmu, tapi juga lahan menumbuhkan nyali. Itulah yang ditunjukkan mahasiswa STAI Nurul Ilmi Tanjungbalai saat mereka turun langsung mempraktikkan ilmu kewirausahaan dalam sebuah kegiatan lapangan yang penuh semangat, Rabu(28/5). di halaman STAI Nurul Ilmi Tanjungbalai.
Di bawah bimbingan dosen pengampu mata kuliah Kewirausahaan, Shopiana, M.Pd., para mahasiswa memamerkan ide-ide bisnis kreatif dalam suasana yang jauh dari kaku. Mereka bukan hanya berdagang, tapi juga membangun citra, membentuk relasi, dan belajar menjual value dalam bentuk yang menyenangkan.
Salah satunya adalah Siti Khadijah, mahasiswi semester VI yang tampak percaya diri berpose dalam frame bergaya Instagram. Di tangannya, sebuah papan kecil bertuliskan “BOS MUDA” seolah menyampaikan pesan: kami generasi baru, siap memimpin usaha dari sekarang.

“Kegiatan ini mengajarkan kami untuk berani tampil, percaya pada ide sendiri, dan bekerja dalam tim. Rasanya seperti sedang menjalankan usaha sungguhan, bukan sekadar tugas kampus,” ujar Siti dengan antusias.
Momen tersebut menjadi lebih istimewa karena dibalut dengan semangat kolaboratif. Poster-poster motivasi, kerjasama antar kelompok, serta gaya penyampaian produk yang komunikatif menjadikan praktik ini tidak hanya akademik, tapi juga edukatif secara sosial.
Shopiana, sang dosen pembimbing, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas.
“Jika mahasiswa ingin bertahan di dunia nyata, mereka harus bisa menciptakan peluang, bukan hanya mencari kerja. Ini latihan mental dan keterampilan wirausaha sejak dini,” ujarnya saat ditemui di sela kegiatan.
Lebih dari sekadar latihan berdagang, kegiatan ini juga mengajarkan branding pribadi, komunikasi persuasif, dan cara bersaing sehat. Dalam konteks kota seperti Tanjungbalai yang kian berkembang, kemampuan seperti ini bukan lagi pelengkap, tapi kebutuhan.
Dengan pendekatan yang menyentuh aspek karakter, etika, dan ekonomi kreatif, STAI Nurul Ilmi Tanjungbalai membuktikan bahwa pendidikan tinggi Islam bisa menyatu dengan dunia usaha – tanpa kehilangan nilai, tanpa meninggalkan akar.
“Ulama yang berdagang, bukan pedagang yang pura-pura jadi ulama”, tulis salah satu papan quote yang diangkat mahasiswa. Sebuah sindiran halus sekaligus ajakan tegas: jadilah pejuang ekonomi yang jujur dan bermartabat. (Heri)




