SAMOSIR, GEMADIKA.com – Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Samosir, Edison Pasaribu, mengungkapkan bahwa fenomena ini dipicu oleh cuaca ekstrem yang melanda kawasan sejak 10 Juli 2025.
Angin kencang yang bertiup terus-menerus telah mengaduk lumpur di dasar danau, menyebabkan air menjadi keruh dan berwarna cokelat.
“Angin kencang yang mengakibatkan ombak hingga satu meter membuat lumpur terangkat ke permukaan danau. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, air keruh tersebut mengakibatkan kadar oksigen dalam air menurun sehingga mengakibatkan ikan-ikan mati,” jelas Edison Pasaribu, Jum’at (25/07/2025).
Kondisi ini telah menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit bagi para pembudidaya ikan di sekitar Danau Toba. Berdasarkan informasi dari masyarakat setempat, kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp 10 miliar. Angka ini mencerminkan besarnya dampak ekonomi yang dialami nelayan dan pembudidaya ikan di kawasan tersebut.
Edison menjelaskan bahwa fenomena alam serupa kerap terjadi dalam siklus lima tahunan. Kondisi yang sama pernah terjadi pada tahun 2000 dan lima tahun yang lalu, di mana ikan-ikan di kawasan tersebut juga mengalami kematian massal.
Puncak cuaca ekstrem terjadi sekitar 15 Juli 2025, ketika angin kencang mencapai intensitas tertinggi. Hal ini dibuktikan dengan munculnya buih putih di permukaan Danau Toba, menandakan tingginya aktivitas gelombang.
“Lokasi air keruh berada di Desa Tanjung Bunga, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, diperkirakan sejauh dua kilometer,” kata Edison Pasaribu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Samosir.
Pihaknya juga meminta masyarakat untuk tetap waspada, mengingat curah hujan yang rendah dalam waktu lama turut mempengaruhi kadar oksigen dalam air danau.
(Jarmarlin Saragih)




