SLEMAN, GEMADIKA.comKasus penganiayaan yang melibatkan Takbirdha Wardiana alias “Mas Pelayaran” kian menjadi sorotan publik. Pria yang mengaku bekerja di bidang pelayaran ini kini tidak hanya menghadapi proses hukum, tetapi juga “serangan balik” digital yang tak terduga.

Setelah viral karena melakukan penganiayaan terhadap kekasih driver ojol hanya karena pesanan terlambat lima menit, rumah Mas Pelayaran di kawasan Bantulan, Godean, Sleman, kini dibanjiri orderan fiktif dari berbagai platform belanja online.

Insiden bermula pada Kamis (6/7/2025) ketika AML (22), kekasih seorang driver ojol, mengantarkan pesanan ke kawasan Godean, Sidoarum, Sleman. Takbirdha Wardiana selaku customer tidak terima dengan keterlambatan pengantaran yang hanya sekitar lima menit.

“Tapi mas tersebut emosi dan seperti yang ada di video kami adu mulut dan mas tersebut juga bilang ‘aku pelayaran loh mbak’,” ujar kekasih driver ojol yang menjadi korban.

Situasi semakin memanas ketika emosi Mas Pelayaran memuncak. Bersama dua kerabatnya, RHW (32) dan RTW (58), mereka melancarkan serangan terhadap AML yang tidak berdaya.

“Keadaan semakin memanas dan ada satu orang entah saudara atau kakak laki-laki dari customer yang akhirnya tersulut, mengangkat kerah baju saya dan menyeret-nyeret saya seperti di video yang membuat tangan dan muka saya lecet-lecet akibat kuku,” jelas AML mengenang kejadian traumatis tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ, AML juga mengaku dijambak oleh dua orang di bagian kiri dan kanan kepalanya. Tindakan brutal ini terekam dalam video yang kemudian viral di media sosial.

Berdasarkan bukti yang ada, polisi telah menetapkan ketiga pelaku sebagai tersangka. Takbirdha Wardiana bersama RHW (32) dan RTW (58) kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.

Baca juga :  Ngeri! Beli Soto Malah Dapat Bonus Paku Berkarat — Wanita Ini Syok Bukan Main

Kasus ini semakin mencuat setelah video penganiayaan tersebar luas di media sosial, memicu amarah warganet yang menilai tindakan tersebut sangat tidak berperikemanusiaan.

Tidak lama setelah video viral, sejumlah aksi massa yang berasal dari kalangan driver ojol melakukan penggerudukan di rumah Takbirdha Wardiana. Namun, aksi demonstrasi ini justru menjadi tidak kondusif karena adanya oknum yang melakukan pengrusakan fasilitas umum.

Sebagaimana dikutip dari portal media radarjogja.jawapos.com pada Senin (7/7/2025), oknum yang melakukan pengrusakan di sekitar kediaman Mas Pelayaran ternyata bukan dari kalangan driver ojol.

“Baik BAP maupun MTA (pelaku pengrusakan) bukan merupakan driver resmi dan tidak memiliki SIM,” jelas dalam laporan tersebut.

Kapolresta Sleman Kombes Pol Edy Setyanto Erning Wibowo menanggapi situasi ini dengan tegas. Edy menuturkan bahwa pelaku pengrusakan tersebut telah diproses dan ditetapkan sebagai tersangka.

“Kami mengimbau kepada pelaku lain untuk segera menyerahkan diri sebelum dilakukan penangkapan,” jelasnya, karena masih ada pelaku pengrusakan lain yang belum tertangkap.

Amarah warganet terhadap kelakuan Mas Pelayaran ternyata tidak berhenti pada komentar di media sosial. Sejak Senin (7/07/2025) pagi, rumah Mas Pelayaran mulai dibanjiri pesanan fiktif dengan sistem Cash on Delivery (COD).

Barang-barang yang dikirim pun bukan main-main. Dari kaos tahanan Nusakambangan, lemari, hingga kulkas dua pintu dikirimkan oleh kurir dan seller yang kebingungan karena pesanan palsu ini.

“[Breaking News]09:51 imbas mas mas pelayaran yang viral kemarin banyak order fiktif yang masuk, kurir dan seller yang dirugikan,” tulis akun X @merapi_uncover yang pertama kali mengunggah kejadian ini.

Baca juga :  Dua Lipa Seret Samsung ke Pengadilan, Gugat Rp260 Miliar soal Foto Dipakai Tanpa Izin

Fenomena “serangan balik” digital ini menunjukkan bagaimana kemarahan publik di era digital dapat berwujud dalam bentuk yang tidak terduga. Meski terkesan kreatif, tindakan ini justru merugikan kurir dan penjual yang tidak bersalah.

Tindakan Mas Pelayaran memicu gelombang kritik pedas dari warganet. Banyak yang menyindir sikap arogannya yang mengaku bekerja di pelayaran namun tidak menunjukkan sikap profesional.

“Si paling disiplin, si paling pelayaran, mesan ongkos hemat, mau cepat biar nggak kedouble sama sistem pakai prioritas,” tulis akun @crabs500 dengan nada sinis.

Sementara akun @aiyuen2 ikut mengkritik, “Ribet banget ya, kok orang punya energi marah-marah pas pesanan gak on time. Tolong saling maklumilah. ‘Saya pelayaran’ terus kalau lu pelayaran tuh kenapa?!”

Kasus ini mengingatkan kita akan pentingnya toleransi dan empati dalam kehidupan sehari-hari. Keterlambatan lima menit dalam pengantaran pesanan adalah hal yang wajar, apalagi jika pemesanan dilakukan tanpa fitur prioritas.

Driver ojol dan kurir bekerja keras melayani banyak pesanan dengan kondisi lalu lintas yang tidak selalu mendukung. Mereka berhak mendapat perlakuan yang manusiawi, bukan kekerasan fisik.

Kini, selain menghadapi proses hukum atas tuduhan penganiayaan, keluarga Mas Pelayaran juga harus berurusan dengan gelombang orderan fiktif yang terus berdatangan. Situasi ini menunjukkan bagaimana satu tindakan yang tidak tepat dapat berdampak berlipat ganda di era digital.

Kasus ini juga menjadi peringatan bagi semua pihak untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak melakukan tindakan yang merugikan pihak lain, meskipun dimotivasi oleh rasa keadilan. (*)

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami