SEMARANG, GEMADIKA.com – Ribuan warga Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jawa Tengah, masih berjibaku melawan banjir yang mengepung kawasan mereka sejak Kamis (23/10/2025) malam. Hingga Jumat (24/10/2025), sekitar 17.000 warga masih terdampak genangan yang terus meluas akibat hujan deras.
dilansir dari Kompas, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Gayamsari AKP Yuna Ahadiyah membenarkan data jumlah korban terdampak tersebut. Pemerintah setempat bersama kepolisian telah membuka posko pengungsian dan posko distribusi sembako untuk membantu warga yang terdampak.
“Kalau dari kami informasi dari Pak Lurah kemarin 17.000 (warga yang terdampak banjir),” kata Yuna saat ditemui di lokasi banjir, Jumat.
Tambakrejo Paling Parah Terdampak
Menurut Yuna, dari empat kelurahan yang terendam, Kelurahan Tambakrejo menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, mencapai 3.000 kepala keluarga (KK).
“Ada empat lokasi, Sawah Besar, Tambakrejo, Kaligawe, dan Siwalan,” ujarnya.
Banjir di Kecamatan Gayamsari kali ini terjadi akibat intensitas hujan yang tinggi sejak Kamis malam hingga Jumat dini hari. Sistem drainase yang tidak mampu menampung volume air hujan menyebabkan genangan meluas dengan cepat di beberapa titik permukiman.
Jalan Kaligawe Tergenang 50 Sentimeter
Kondisi yang sangat mengkhawatirkan terjadi di Jalan Arteri Kaligawe, salah satu akses vital di Kota Semarang. Berdasarkan laporan yang diterima Kapolsek Gayamsari, volume air di jalan tersebut terus meningkat sekitar 10 sentimeter sejak Kamis malam.
Pada Jumat pagi, ketinggian air di Jalan Kaligawe sudah mencapai 50 sentimeter, membuat jalan arteri ini praktis tidak dapat dilalui kendaraan, terutama kendaraan bermotor roda dua.
“Karena kemarin kita di sini masih bisa, ini pagi ini kita di sini sudah diisi oleh air juga,” ungkap Yuna.
Kondisi ini membuat arus lalu lintas di kawasan tersebut terganggu parah. Banyak kendaraan terpaksa berbalik arah atau mencari jalur alternatif untuk menghindari genangan.
Imbauan Hindari Jalan Kaligawe
Melihat kondisi yang semakin memburuk, pihak kepolisian mengeluarkan imbauan resmi kepada pengguna jalan, khususnya yang menggunakan kendaraan pribadi, agar menghindari Jalan Kaligawe dan mencari rute alternatif.
“Kita sudah buat imbauan lewat jalur alternatif,” tegas Yuna.
Petugas kepolisian dan petugas gabungan telah disiagakan di beberapa titik untuk melakukan pengalihan arus lalu lintas. Papan informasi penutupan jalan juga dipasang di beberapa lokasi untuk memberikan peringatan dini kepada pengendara.
BPBD: Waspada Bencana Susulan
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto, memberikan peringatan penting kepada seluruh warga. Menurutnya, masyarakat tidak hanya perlu waspada terhadap banjir, tetapi juga ancaman bencana alam lainnya.
“Bukan hanya antisipasi banjir, tapi juga tanah longsor dan puting beliung,” kata Endro.
Peringatan ini dikeluarkan mengingat kondisi cuaca yang masih tidak stabil dan berpotensi menimbulkan bencana susulan. Beberapa wilayah di Semarang memiliki topografi yang rawan longsor, terutama saat musim hujan dengan intensitas tinggi.
Upaya Penanganan Darurat
BPBD Kota Semarang telah bergerak cepat melakukan serangkaian tindakan penanganan darurat. Tim lapangan melakukan assessment (penilaian kondisi), kaji cepat (rapid assessment), dan penanganan darurat di titik-titik genangan.
“Beberapa wilayah masih terdapat genangan, namun mengalami tren surut,” ungkap Endro.
Meski begitu, dia kembali mengingatkan agar warga tetap waspada dan tidak lengah. Pengendara yang terpaksa melewati area genangan diminta mencari jalur alternatif yang lebih aman.
“Kalau bisa lewat jalur alternatif,” imbau Endro.
Posko Pengungsian dan Distribusi Bantuan
Untuk membantu warga terdampak, pemerintah Kota Semarang melalui BPBD bersama kepolisian dan instansi terkait telah membuka beberapa posko pengungsian. Posko-posko ini dilengkapi dengan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan tempat istirahat sementara.
Selain itu, posko distribusi sembako juga dibuka di beberapa titik strategis untuk memastikan warga yang terisolasi akibat banjir tetap mendapatkan pasokan kebutuhan pokok.
Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan terus memantau perkembangan situasi di lapangan. Perahu karet disiagakan untuk evakuasi jika kondisi memburuk atau ada warga yang membutuhkan bantuan darurat.
Peringatan Cuaca Ekstrem
Banjir yang melanda Gayamsari kali ini menjadi pengingat tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. Semarang, dengan karakteristik geografisnya yang berada di dataran rendah dengan beberapa sungai besar, memang rentan terhadap banjir saat musim penghujan tiba.
Pihak BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem untuk wilayah Jawa Tengah, termasuk Semarang. Masyarakat diminta untuk selalu memantau informasi cuaca terkini dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.
“Tidak hanya banjir, tapi juga longsor dan puting beliung yang perlu jadi perhatian,” tegas Endro menutup pernyataannya.




