REMBANG, GEMADIKA.com – Di tengah gempuran suplemen modern dan vitamin instan, tradisi minum jamu perlahan memudar. Pemandangan mbok jamu gendong yang dulu akrab keluar masuk kampung kini tinggal kenangan, meninggalkan nostalgia manis bagi generasi 90-an yang tumbuh bersama beras kencur dan senyum hangat sang penjual.
Nostalgia Anak 90-an dan Kenangan Gelas Jamu
Della, warga Kecamatan Rembang, mengenang masa kecilnya saat setiap pagi menanti suara “jamu!” dari kejauhan. Ia mengatakan, yang paling berkesan bukan hanya rasanya, tapi juga kebersamaan dan kehangatan saat minum jamu bersama teman-teman sebaya.
“Kalau masih inget, dulu tuh anak-anak minum beras kencur ada yang dicampur sama gulanya biar manis, ada juga yang dipisah tuangan kedua. Itu sih yang paling berkesan, yang sekarang mungkin udah nggak ada ya,” katanya sambil tersenyum, Minggu (9/11/2025).
Sementara Bayu, generasi 90-an lainnya, mengingat bagaimana setiap penjual jamu memiliki racikan berbeda sesuai wilayah dan pelanggan tetapnya.
“Udah kayak punya peta sendiri itu mbok jamu. Kalau di kampung banyak anak-anak, bawa jamu anak-anak. Kalau di daerah banyak ibu hamil, jamunya beda lagi. Belum lagi pesanan pelanggan tetap,” ujarnya.
Tradisi yang Mulai Hilang di Tengah Modernisasi
Kini, penjual jamu gendong semakin sulit ditemukan. Pemandangan mbok-mbok jamu menggendong bakul berisi botol kaca berisi racikan herbal sudah menjadi hal langka. Sebagian dari mereka kini beralih menggunakan sepeda atau gerobak, sementara jamu kekinian dalam kemasan botol plastik atau kaca kecil semakin menjamur di pasaran online.
Sebagian besar penjual jamu yang masih bertahan adalah generasi tua, yang telah berjualan sejak tahun 1980-an. Mereka bukan sekadar penjual, melainkan juga peracik dan peramu jamu tradisional yang turun-temurun menjaga warisan leluhur.
Mbok Jamu, “Dokter Berjalan” yang Dirindukan
Pada masanya, mbok jamu gendong tak hanya menjajakan minuman herbal, tetapi juga berperan sebagai konsultan kesehatan rakyat kecil. Mereka memahami bahan-bahan alami untuk berbagai keluhan ringan, seperti tidak nafsu makan, demam, atau pegal-pegal, dan kerap menjadi tempat bertanya bagi para ibu rumah tangga.
“Dulu mbok jamu itu kayak dokter berjalan. Kalau anak panas atau nggak mau makan, ya tanya ke mbok jamu dulu sebelum ke puskesmas,” kenang Bayu.
Dari situlah, jamu menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan gaya hidup (‘kalcer’) masyarakat desa tempo dulu—sebuah perpaduan antara pengobatan tradisional dan kearifan lokal.
Ragam Jamu Gendong dan Filosofinya
Secara umum, jamu tradisional racikan mbok jamu terbuat dari rempah alami seperti kencur, kunyit, jahe, dan temulawak, yang diolah menjadi minuman siap saji maupun bubuk seduh.
Ada delapan jenis jamu yang paling sering dijajakan, yaitu:
- Beras kencur, penambah stamina dan nafsu makan
- Cabe puyang, untuk pegal linu
- Kudu laos, penurun tekanan darah
- Uyup-uyup, pelancar ASI
- Kunyit asam, penyegar tubuh dan pereda nyeri haid
- Pahitan, untuk detoks tubuh
- Sinom, penyegar alami
- Kunci suruh, untuk menjaga kebersihan organ wanita
Sebotol pemanis cair biasanya turut dibawa untuk pelanggan yang tidak tahan rasa pahit jamu. Tak jarang, mbok jamu juga membawa teko air panas agar bisa langsung menyeduh jamu bubuk pesanan di tempat.
Asal Usul dan Warisan Budaya Jamu Gendong
Tradisi jamu gendong diyakini berasal dari Desa Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Daerah ini dikenal sebagai sentra peracik jamu tradisional. Bahkan di sana berdiri Monumen Patung Jamu dan Petani, sebagai simbol bahwa Sukoharjo identik dengan budaya jamu dan sosok mbok jamu yang legendaris.
Kini, warisan itu tinggal cerita bagi sebagian besar masyarakat perkotaan. Namun bagi mereka yang pernah merasakan segelas beras kencur dari tangan mbok jamu, kenangan itu tak lekang dimakan zaman.
“Dulu tiap pagi ada teriakan ‘jamu!’ yang bikin suasana kampung hangat. Sekarang, suaranya sudah jarang terdengar,” ujar Della lirih. (aziz)




