Ibu kota kerajaan terletak di Kahuripan, dekat lembah Gunung Penanggungan, sekitar wilayah Sidoarjo sekarang. Kerajaan ini berumur sangat pendek dan Raja Airlangga menjadi satu-satunya penguasa yang pernah memerintah.
Berdiri dari Kehancuran Kerajaan Medang
Raja Dharmawangsa Teguh yang berkuasa antara 985-1017 tewas dalam pertempuran. Airlangga, keponakan sekaligus menantu Dharmawangsa Teguh, berhasil menyelamatkan diri ke hutan bersama abdinya, Narottama.
Tiga tahun kemudian, pendeta Siwa, Buddha, dan Mahabrahmana memintanya melanjutkan Kerajaan Medang. Setelah dinobatkan menjadi raja pada 1020, Airlangga mendapat gelar Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramatunggadewa.
Karena Kerajaan Medang telah hancur, ia membangun kerajaan baru di Watan Mas. Pada 1032, Raja Airlangga memindahkan ibu kota ke Kahuripan setelah diserang musuh.
Masa Kejayaan dan Pembangunan
Pada awal berdirinya, wilayah kekuasaan kerajaan hanya meliputi Sidoarjo, Pasuruan, dan sebagian Mojokerto. Sebagian besar masa pemerintahan Raja Airlangga dipenuhi peperangan untuk menaklukkan kembali wilayah-wilayah yang pernah melepaskan diri dari Kerajaan Medang.
Dari Prasasti Pucangan, diketahui bahwa antara 1029-1037, Raja Airlangga menyerang semua musuh yang memiliki andil dalam runtuhnya Kerajaan Medang bersama Raja Wurawari. Setelah semua musuh ditaklukkan, sang raja memusatkan perhatian untuk membangun kerajaan.
Kemajuan pada masa pemerintahannya terlihat dari pesatnya pembangunan, termasuk bendungan, pelabuhan, dan jalan. Raja Airlangga juga meringankan beban pajak rakyat yang sering terkena musibah.
Akhir Kerajaan: Dibagi Demi Hindari Perang Saudara
Menjelang akhir pemerintahannya, Raja Airlangga memindahkan ibu kota kerajaan ke Daha (Kediri). Ia berhadapan dengan masalah suksesi karena putrinya, Sri Sanggramawijaya Dharma Prasadar Tunggadewi, yang seharusnya mewarisi takhta justru memilih menjadi pertapa.
Persoalan muncul ketika anak laki-laki Dharmawangsa Teguh, Sri Samarawijaya, menuntut haknya. Untuk menghindari konflik, Raja Airlangga memutuskan membagi Kerajaan Kahuripan pada 1045.
Peninggalan Kerajaan Kahuripan
Beberapa peninggalan Kerajaan Kahuripan yang masih dapat ditemukan hingga kini:
- Candi Belahan
- Candi Semar Jalatunda
- Prasasti Kamalagyan
- Prasasti Pucangan
- Prasasti Pamwatan
- Prasasti Cane
- Prasasti Baru
- Prasasti Terep
- Kitab Arjunawiwaha




